AKU RELA
MELEPASMU
Karya:
Amir Syarifudin
Jika
saat ini kamu mencintai orang lain maka cintailah dia sepenuh harimu.
Berawal dari pertemananku sama Rani,
Kami berteman dari sejak lama. Setaip hari kami selalu pergi bersama, ke sekolah,
ke mol, seneng-seneng. Kemanaoun kami selalu berdua, Kata orang sih kami ini
udah kaya sepasang kekasih karena saking dekatnya. Padahal kan kami tuh cuma
sekedar bersahabat.
Sekian masa sekian cerita, Rani
bercerita kepadaku, Bisa di bilang curhat lah.
“ Dan, aku mau cerita nih sama
kamu?”
“ mau cerita apa Ran?”
“ kamu kenal kan yang namanya Rian?”
“ iya kenal, kenapa emangnya Ran?”
“ engga, gak jadi deh”
“ masa gak jadi?”
“ eng ga papa”
“ kamu suka ya sama dia?”
“ ngarang aja kamu”
Aku tau betul gimana Rani, Dia pasti
lagi jatuh cinta sama si Rian ( dalam fikirku).
Sebenarnya sih aku udah suka sama
Rani sejak 5 bulan yang lalu, saat di dekat dia aku merasa nyaman. Aku akuin
Rani itu anaknya emang cantik.
Biarkanlah rasa ini ku pendam, Aku
gak mungkin nembak Rani, Karena Rani suka sama Rian.
Malam minggu pun tiba, Seperti biasa
aku dan Rani biasanya pergi nonton. Kami selalu asyik berdua tapi bukan pacaran, Maklum kami bersahabat
sangat erat.
Di malam itu setelah nonton aku
mengajak Rani untuk makan, Kami pun asyik bercerita.
“ Dan, kalo misalkan aku jadian sama
Rian kamu setuju gak?”
“ gak tau deh”
“ yang bener napa jawabnya”
“ hmmmm…. Iya aku setuju”
(
dalam hati sih sebenarnya aku tidak setuju, karena aku suka Rani duluan)
“ bener nih setuju? Ntar kamu
marah lagi!
“ ngapain marah, lagian kamu udah
kan ngejomblo?”
“ tapi si Rian belum juga nembak
aku”
“ sabar aja dulu, belum waktunya
mungkin!”
“ mungkin!”
Ternyata sahabat yang selama ini aku suka, Ternyata mencintai
orang lain.
Malam semakin larut kami pun
bergegas pulang.
Hari itu hari senin pas jam
istirahat, seperti biasa aku menunggu Rani di depan kelasnya untuk pergi ke
kantin bersama, Tak lam Rani pun keluar kelas dan mengagetkanku dari belakang,
aku menengok, Ternyata Rani bersama Rian.
“ hey…. Ngelamunn aja kamu”
“ ngagetin aja kamu Ran”
“ aku ada kabar gembira nih buat
kamu”
“ apa Ran?”
“ aku sama Rian udah jadian loh”
“ oh, selamat kalo gitu”
“ ko expresinya biasa aja , kamu gak
seneng ya aku jadian sama Rian?”
“ seneng ko seneng”
( meski dalam hatiku sebenarnya agak
kecewa tapi aku mencoba tuk terlihat seneng, supaya Rani tidak curiga bahwa
sebenarnya aku tuh suka sama dia)
“ aku sama Rian mau ke kantin nih,
kamu mau ikut gak?”
“ gak ah Ran, kalian aja duluan”
“ bener nih gak mau bareng, yaudah
aku duluan ya Dan”
“iya”
Aku gak mau mengganggu mereka
berdua, Semenjak Rani dan Rian jadian, aku agak menghindar dari Rani. Karena
semakin hari aku mulai cemburu sama Rian. Semenjak itu pula kami jarang pergi
berdua layaknya sahabat.
( mungkin sampai kapan pun rasa ini
akan terus terpendam, dan tak akan
pernah bias ku ungkapkan)
“ Dani kemana ya, kamu tau gak Ian?”
“ aku juga gak tau, udah 7 hari dia
gak keliatan di sekolah, coba aja ntar pulang sekolah kita kerumahnya”
“ boleh tuh”
Sudah 7 hari aku tidak masuk
sekolah,, aku harus pergi ke bandung untuk di rawat. Sebenarnya Rani tidak tau
bahwa aku menderita kanker separah ini. Sebelum aku pergi aku menitip surat kepada
pembantuku untuk di berikan kepada Rani. Ku ungkapkan semua perasaanku kepada
Rani lewat surat yang aku titipkan.
“ permisi Bi, Dani nya ada?”
“ gak ada Non”
“ kira-kira pergi kemana ya Bi? Udah
7 hari ini Dani gak masuk sekolah”
“ Non belum tau ya?”
“ emang kenapa Bi sama Dani?”
“ 3 hari yang lalu kan Den Dani
pergi ke bandung Non untuk di rawat di rumah sakit, oh ya Non sebelum Den Dani
pergi, Den Dani titip surat buat Non”
( sebelumnya aku minta maaf sama
kamu, aku udah gak jujur sama kamu, sebenarnya aku mulai saying dan cinta sama
kamu. Aku cemburu pada saat kamu deket Rian, dan sebenarnya ku juga agak kecewa
kamu jadian sama Rian. Oh ya mungkin setelah kamu baca surat ini aku udah
berada di alam yang berbeda karena kanker yang aku derita, sekali lagi maaf aku
udah gak jujur sama kamu)
“ Bi kira-kira nama rumah sakit
tempat Dani di rawat apa Bi?”
“ rumah sakit Mitra Harapan Non”
“ makasih ya bi”
Tak lama kemudian Rani pun pergi ke
bandung untuk menemuiku. Sepanjang jalan Rani terus meneteskan air mata.
Setibanya di rumah sakit Rani langsung pergi ke Ruangan ICU dimana aku di
rawat.
“ Dan kenapa sih kamu gak jujur dari
dulu sama aku?”
“ aku gak mau Ran, membuat kamu
sedih, aku juga gak mau menggangu hubungan kamu sama Rian”
“ tapi kmu kan bias jujur sama aku”
“ udah kamu jangan sedih ya, ini
emang sudah takdirku, mungkin gak lama lagi aku akan pergi jauh dari dunia ini”
“ kamu ngomong apa sih Dan, aku
yakin kamu pasti bisa sembuh”
“ Ian aku titip Rani ya, jaga Dia,
jangan sampai buat Dia menangis apa lagi sampai terluka”
“ ok Dan aku akan inget pesan kamu”
“
udah ya Ran jangan sedih lagi”
“ selamat tinggal Ran Ian semoga
kalian bahagia”
Air mata Rani semakin deras
membasahi pipinya, seakan tak rela melihat kepergianku.
Kehendak tuhan tak bias di ubah, dan
siapa kira seorang sahabat bisa begitu mencintai kita. Itulah realita cinta,
kadang cinta tak selamanya harus memiliki dan kita harus siap jika suatu saat
kita harus melepaskan Dia.
Sekian,




0 komentar:
Posting Komentar