Recent Posts

Selasa, 30 Juni 2015

Akhir Bahagia Ku

Cerpen Karangan: Retno Romadona


Mentari pagi telah keluar dari peraduan nya dan pagi ini siap ku gapai dengan suka cita. Bagaimana tidak, hari ini adalah hari pertama aku menjadi Mahasiswi di sebuah Universitas terkemuka di Indonesia, Ya UGM. Aku akan memulai kehidupan baru di Jogja, menjadi perempuan yang mandiri karena aku tinggal sendiri disini.
Sampai di gerbang UGM aku langsung terpukau “Ya Allah, aku masih tidak percaya kalau aku menjadi bagian di Universitas impian semua anak Indonesia” Ucapku dalam hati.
“Assalamualaikum, aku Retno Mahasiswi baru yang akan mengikuti Ospek disini. Kakak Pembina kegiatan ini?” Tanyaku kepada seorang laki-laki yang berdiri tepat di sampingku
“Waalaikumsalam, Oh iya saya Egi Afriano. Kegiatan akan dimulai pukul 09.00 WIB. Kamu Fakultas apa?” Tanya kak Egi padaku
“Aku Fakultas Ekonomi” Jawabku.
Kegiatan ini sungguh menyenangkan dan juga melelahkan. Selama 1 Minggu kegiatan Ospek berlangsung. Banyak sekali pengalaman yang tak terlupakan dan ini awal rencana Allah yang indah itu. Aku dipertemukan oleh teman-teman yang sangat baik.
“Hai retno… Aku Rina, kamu yang kost di Jalan Diponegoro itu kan? Kamu Fakultas Ekonomi juga?” Tanya Rina yang menurut aku cantik.
“Iya.. Oh kamu Rina. Gak nyangka ya kita satu Fakultas” Sahutku.
Semakin hari aku semakin akrab dengan Rina. Meskipun kami berbeda penampilan. Tetapi itu bukan penghalang bagi kami. Rina sering sekali cerita tentang dunia percintaan dia, tetapi aku hanya tersenyum, maklum aku tidak mengerti tentang itu semua karena aku belum pernah pacaran sekalipun. Aku berprinsip tidak akan pacaran sampai kuliah ku selesai. Masih banyak hal penting daripada Pacaran. Lagi pula dalam agama Islam tidak dibenarkan untuk berpacaran.
3 tahun berlalu, Aku semakin senang menjadi seorang Mahasiswi. Banyak sekali organisasi yang aku geluti di Kampus untuk mencari pengalaman hidup. Tetapi aku tak menyangka kalau bentar lagi akan skripsi. Yah aku terpilih untuk siding lebih cepat dari yang dijadwalkan. Aku diberi waktu 4 bulan untuk menyelesaikan semua tugas skripsi.
Akhirnya sidang skripsi ku selesai, semua berjalan dengan baik dan semoga hasilnya pun baik.
“aamiin” do’aku dalam hati.
Meskipun aku masih tidak menyangka kalau aku akan menjadi seorang Sarjana Ekonomi yang merupakan Impian ku sejak SMP. Hatiku masih tidak percaya 3 tahun aku sudah bisa mendapat gelar S.E. “Ya Allah aku masih tidak percaya, apakah ini kebahagiaan itu, Tugasku selanjutnya adalah Membahagiakan Orangtua dan Kakak-Kakak ku.” Ucapku.
Acara Wisuda pun akan dimulai, rasa bahagia dan haru menjadi satu dan tak terbendung. Apalagi duduk di samping ku ada sosok-sosok yang membuat aku bisa menjadi seperti sekarang, sosok-sosok yang inspiratif dan luar biasa, Mereka adalah Ibu, Bapak dan Kakak-kakakku.
Setelah 1 bulan melepaskan status dari Mahasiswi dan telah menjadi Seorang Sarjana Ekonomi. Sekarang aku sedang sibuk mencari pekerjaan untuk merealisasikan mimpi ku yang sesungguhnya yaitu membahagiakan keluarga.
Alhamdulillah akhirnya aku diterima disalah satu Bank Syariah di Bandar Lampung. Selama bekerja disana aku merasa nyaman dan betah sekali. Meskipun awalnya terkejut karena aku tidak menyangka Mas Egi Afriano, pembimbing aku waktu Ospek di UGM ternyata satu kantor dengan aku dan dia juga ternyata di Jogja dulu anak rantauan. Semakin hari aku semakin akrab dengan Mas Egi karena di kantor pun aku satu tim kerja dengan nya dia sebagai pembimbing bagi Junior.
Sampai pada suatu hari Mas Egi datang ke rumah ku dan membicarakan sesuatu kepada Bapak dan Ibu. Ternyata Mas Egi mengKhitbah aku. Ya Allah sekenario kehidupan yang Engkau beri kepada ku sungguh indah. Meski awal perjuangannya berat tetapi akhirnnya sungguh mengagumkan. Mungkin Mas Egi adalah seseorang yang Kau maksud dalam Kitab Lauhul Mahfudz ku.
End.
Cerpen Karangan: Retno Romadona
Sumber : http://cerpenmu.com/cerpen-kehidupan/akhir-bahagia-ku.html

Dia Bukan Jodohku

Cerpen Karangan: Musyari Aulia


Angin pagi musim dingin menyapa seorang pemuda yang sedang menghafal Al Quran dalam perjalanan. Pagi-pagi sekali setelah shalat subuh, ia sudah keluar dari flatnya di Matariah menuju Hussein. Kegiatannya dimulai dengan menyetor hafalan Al Quran, menghadiri talaqqi di Masjid Al Azhar dan muhadarah kuliah. Selesai kuliah ia menyambung lagi dengan talaqqi hingga waktu isya, kemudian berlabuh ke flat tepat pukul 12 malam. Pergi pagi pulang malam menjadi makanannya sehari-hari, kecuali hari Jum’at dan Sabtu.
Malam Jum’at adalah waktu evaluasi mingguan, tahajjud dan muhasabah bagi viki. Memohon ampunan atas dosa-dosa yang telah ia lakukan. Sesekali ia menyesali kelalaiannya dari tingkat satu sampai tiga, yang menurutnya tak ada kemajuan. Tak terbendung, air mata pun menetes lembut di atas hamparan sajadahnya. Penyesalan inilah yang membakar semangatnya menjalani sisa-sisa waktu di Kairo. Sedangkan Sabtu, hari refreshingnya.
Sabtu ini, Viki memilih silaturrahmi ke flat abang kelasnya di Sabi?. Disana mereka berbincang-bincang hangat, benar-benar merasakan adik-abang yang sesungguhnya dalam satu keluarga. Seketika, ia teringat abang kandungnya yang begitu cuek padanya, tak sering sapa, apalagi cerita. Ditambah lagi, Kedua Orangtuanya pun sudah lama meninggal yang membuatnya kurang terjamah oleh kehangatan keluarga. Terlebih lagi dalam keadaannya jauh seperti ini, chatting saja tak pernah, apa lagi lebih dari itu.
“Ah, biarlah!!! Dia tak mungkin berubah” gumamnya dalam hati.
Setelah lama berbincang seputar aktivitas harian. Layaknya seorang pria yang berstatus kepala dua, perbincangan mulai ngawur,
“Jadi setelah Lc ini, planningnya dengan siapa?” tanya Dani, abang kelasnya.
“Maksudnya?” viki penasaran.
“Ah, itu saja perlu penjelasan, planning nikah vik!” kata Dani.
“Hmm, Aku baru 22 tahun lulus Lc ini, ngapain buru-buru coba? Abang itu yang uda 25 duluan sana” Viki menyindir.
“Kalo Aku sih sudah terlanjur ambil S2 di Al Azhar, jadi harus fokus thesis dulu dua tahun lagi. Kalau kau kan belum terikat dengan apa pun, kesempatan!” ia merayu.
“Kalau saja selesai itu dua tahun, kalau tidak gimana? Mau lima tahun lagi?” viki menahan tawa.
“Parah, doanya bukan yang bagus-bagus dikit gitu!”
“Laaah, itu sudah yang paling bagus lho, biar kamu cepat-cepat nikah!” ia diam, lalu melanjutkan “Tapi menurutku, mau kasih makan apa coba istri nanti kalau nikah saat kita belum ada pekerjaan,” suaranya merendah.
“Ini ni, kamu keliru vik. Allah telah mengatur rezeki masing-masing hamba, jadi jangan takut!” bantah Dani.
Diskusi terus berlangsung seru, banyak hikmah mengelilingi obrolan mereka. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Viki pun pamit.
Perbincangan mereka tadi masih membekas di ingatan Viki dalam perjalanan pulang. Memorinya memutar-mutar kembali kisah SMA dulu. Saat viki ngobrol dengan sang kekasih hati, Maya, yang ditemani kawan sekelasnya, Novi.
“Viki ambil kuliah apa nanti?” tanya Novi.
“Masih belum jelas juga ni, antara Teknik Elektro dan Informatika. Novi apa?”
“Novi sih belum jelas, bimbang antara jalur IPA atau IPS. Kalau Maya?”
“Novi harus cepat-cepat mikir tu. Kalau Maya ambil psikologi, kuliah empat tahun, kerja satu tahun, terus nikah” Maya menjawab dengan yakin.
“Berarti Maya target nikah umur 23 gitu?” tanya Novi.
“Iya! Soalnya umur di atas 23 uda dibilang perawan tua dalam keluarga maya, karena kakak semua nikahnya sebelum umur 23. Oya, ingat tu viki, Umur Dua Tiga!” ucapnya sambil tersenyum.
Suasana hening sejenak. Dalam pikiran viki terus mencerna apa yang baru saja dikatakan maya.
“Umur 23? Sulit bagiku untuk menikah” dalam pikirannya.
“Hmm, umur 23 viki belum jadi apa-apa lagi, gimana mau nikah” ucap Viki mengerutkan dahi. Tiba-tiba Bel tanda masuk pelajaran berbunyi sekaligus mengakhiri obrolan mereka.
Setelah kejadian itu, sikap Viki ke maya berubah, ia mulai menjaga jarak, tak yakin hubungan ini akan berhasil. Maya adalah cinta pertamanya, cinta yang datang dari pandangan pertama. Walaupun maya yang mengungkapkan Cinta terlebih dulu padanya. Viki bukanlah tipe lelaki yang mempermainkan wanita, jika sekali ia melangkah, ia harus komitmen. Komitmen dalam hubungan, itu yang selalu diharapkan viki. Tapi sejak saat itu komitmennya rapuh, dia sudah pada kesimpulan “maya terlalu egois, ia hanya memikirkan keadaannya, tanpa mau memahami Aku”
Di seberang yang lain pun, Maya juga merasakan perubahan Viki. Ia menyesali ucapannya yang tak semestinya ia ucapkan, rasa bersalahnya terus berkepanjangan, sampai akhirnya maya meng-sms viki,
“Viki, maya minta maaf ya, maya enggak semestinya begitu, maya tau itu terlalu egois.”
Lama maya menunggu balasan dari viki namun tak kunjung tiba. Di sekolah pun maya dan viki tidak saling bertemu seperti biasa. Kelas mereka bertetanggaan, namun ketika sampai sekolah, viki langsung masuk ke kelas, dan ketika selesai, viki langsung pulang.
Kesedihan maya semakin bertambah setiap harinya, hatinya sakit. Di kelas, maya tampak lesu, tak setegar dulu,
“Kenapa kamu dengan viki? Ada masalah? Cerita donk sama dara, jangan didiamin,” teman sebangkunya coba menghibur.
“Enggak kenapa-napa dar” jawab maya datar.
“Maya enggak bisa bohong sama dara, dara tau kok kenapa” dara menarik nafas panjang, “Hmm, kan dari awal dara sudah bilang, jangan lafadkan cinta itu sebelum waktunya datang, tapi titipkan ia pada Sang Pencipta Cinta”
“Hmm, Jadi sekarang bagaimana dar? Jangan pojokin maya lagi donk!” tanya maya sedih dan kesal.
“Sekarang coba Maya muhasabah diri. Yakinlah bahwa itu Taufiq dan Hidayah dari Allah, supaya kita sadar dan tidak melanjutkan hubungan itu” nasihat dara lembut.
“Iya dar, maya coba ikuti saran dara. Dan maya juga minta maaf dari awal enggak mau dengarin nasihat dara,” maya pilu.
Sedikit demi sedikit maya sadar maksud perkataan dara, bahwa aplikasi cinta yang dijalaninya ini tersesat. Maya merenung cukup lama, membandingkan keadaannya saat ‘sendiri’ dengan sekarang. Ia sadari ia khilaf. Walau terlambat, dengan tekad yang kuat, ia titipkan cintanya ini kepada Allah bagaimana semestinya, dan setelah hatinya tenang maya meng-sms Viki lagi,
“Viki, maya minta maaf, maya salah. Sekarang terserah viki, viki benci maya, viki anggap maya egois. Mulai hari ini kita jalani aja kehidupan masing-masing. Sekali lagi maya minta maaf ya.”
Kerja di kantor PU membuat hari-hari aris berjalan ringan. Siang ini, ketika break kantor, ia mengotak-atik laptopnya, searching dan chatting. Ini tahun keduanya sebagai PNS di Kantor PU setelah menamatkan kuliah Jurusan Teknik Sipil. Kesungguhannya ketika kuliah terbayar jua, gaji bulanannya sudah melebihi cukup untuk hidup single maupun ketika berkeluarga nanti.
Ketika asyik chatting, ia melihat akun dengan nama viki hakem sedang online. Ya, viki adiknya, sudah dua tahun mereka tidak saling komunikasi, sejak adiknya sekolah di kairo. Niat awalnya aris ingin menyapa viki, namun tiba-tiba ia dikejutkan oleh rekan kerjanya,
“Aris! Chatting mulu. Makan siang yuk. Semalam kau katakan ada yang mau kau bicarakan, sekalian sambil makan. Hampir habis waktu break ni” tegur andi.
“Siiip” ia hampir lupa janjinya, aris langsung mematikan laptop dan bergegas ke kantin. Lalu memesan menu makan siang.
Siang itu, aris ingin menyampaikan sesuatu yang sangat penting. Yang tak mungkin lagi ia sembunyikan terlalu lama. Ini yang membuat sebagian harinya tak tenang. Setelah yakin ia pun memulai,
“Andi, sory nih. Aku mau bicara sesuatu, penting! Tapi aku bukanlah orang puitis yang bisa merangkai kata-kata indah jadi tolong maklumlah.” ia diam sesaat dan melanjutkan, “Dua tahun kita sudah berteman, selama itu aku sering ke rumah kamu, dengan cepat kita begitu akrab. Yang mau aku sampaikan, waktu aku ke rumah Kamu, aku sering lihat satu gadis di rumahmu, namanya Maya kalau aku tidak salah dengar” ucap aris blak-blakan.
“iya, Itu adik sepupu ris. Tumben kamu ngebahas masalah beginian!”
“Hmm, begini sobat. Tanpa sengaja karena sering melihatnya, akhir-akhir ini timbul rasa suka dalam diriku padanya. Pertama?”
“ariiiiis, kau serius!” potong andi.
“Pertama, ini mungkin karena umurku memang sudah layak untuk…” ia tak menyelesaikan kalimatnya. Keduanya diam, masing-masing ada yang mengganjal dalam pikiran.
“Jangan terlalu formal gitu juga ah. Oke oke, begini, datang aja ke rumahku tapi waktu aku tak ada di rumah, bicara dengan bokapku dulu, karena dia sudah lama tinggal di rumahku, setelah itu baru ke bokapnya. Masalah ini Aku enggak mau bicara, lagian kau pun orangnya baik. Kalau dia bilang oke, aku ikut aja. Aku hanya sedikit heran, kenapa cinta bisa datang tiba-tiba seperti ini” ucapnya panjang.
Aris hanya tersenyum “Thank guys, yuk makan dulu” ajaknya.
Ketika waktunya tepat, aris melangkah ke rumah andi, ingin menyampaikan maksud hati yang telah lama dipendam. Bokap andi pun memberikan alamat rumahnya agar aris berbicara langsung dengan Ayah Maya. Selang beberapa hari, ia melangkah ke alamat yang diberikan. Masih dengan tujuan yang sama. Ia disambut hangat oleh Ayah Maya. Setelah memperkenalkan diri dan mengutarakan maksud. Ayah Maya memintanya untuk kembali kamis depan.
Ia merasa satu tabir kehidupan mulai terungkap, sampai datangnya hari yang dimaksud. Ternyata disana sudah ada Maya dan keluarga serta andi. Setelah aris menyampaikan maksud hati. Ayahnya meminta persetujuan maya. Maya tertunduk, perasaan malu dan bimbang jadi satu dalam dirinya,
“Maya tidak bisa jawab sekarang yah, maya akan jawab setelah tiga hari”
Jam 02:00 malam
Maya bermunajat dalam Istikharah-nya. Rasa rindu akan cinta yang dulu mengalun merdu. Cinta yang dulu telah ia titipkan pada Sang Pencipta Cinta. Ia yakin, Viki masih menyimpan rasa yang sama, walaupun sampai saat ini tak menyapanya. Sikap Viki memutuskan komunikasi menurutnya untuk membendung cinta agar indah pada waktunya.
Namun dengan kejadian ini, maya memberanikan diri mengirim pesan ke viki melalu twitter, satu-satu penghubung yang mungkin tersampaikan. Ia meninggalkan segala keraguan dan terus menulis dengan bahasa yang sangat halus. Lalu mengirimnya.
Kairo jam 20:30
Malam Jum’at ini Viki memilih refreshing di depan layar PC yang sejajar dengan kasurnya sambil online. Ketika ia mengotak atik PC, ia melihat satu pesan di Twitter. Langsung saja ia buka dan membacanya. “Dari maya”, ia sempat heran, “sudah lama sekali, apa isinya” ucapnya, dan mulai membaca,
“Dulu, rasa cinta mempertemukan kita
Lalu kebencian sekejap menghancurkan rasa
Malam ini dengan segenap kerinduan, aku kembali menyapamu
Menyapa jasadmu yang telah lama jauh
Namun aku yakin, hatimu masih sangat dekat
Viki, maya telah dilamaran oleh seseorang. Maya menangguhkan jawaban selama tiga hari. Maya bingung vik. Ia adalah teman baik abang sepupuku. Maya tak tau bagaimana dan apa alasan untuk menolak. Tolong bersuaralah demi aku yang diselimuti rasa rindu kepadamu”
“Akhirnya hal yang aku bayangkan terjadi” ada kesedihan dari suaranya.
Tak lama kemudian, hpnya berdering pertanda pesan masuk, dari Aris, abangnya.
“viki, aku telah melamar seorang wanita, satu angkatan denganmu di SMU. Tapi belum ada jawaban darinya. Ia menangguhkannya selama tiga hari. Mohon doanya agar diterima”
“orangnya yang lebih spesifik donk bang” Tanya viki was-was.
“Maya Lestari, tinggal di Lamprit” pesan dari seberang.
“Apa?!!” Viki terkejut. Seluruh dunia berhenti kala jantung viki berdegup kencang. Sedikit sulit mencerna isi pesan itu. Keheningan cukup lama. Apakah berita ini benar? atau hanya mimpi? “Tidak, ini nyata!” hatinya kacau kala itu. Matanya berkaca-kaca membendung air mata kesedihan. Ia merebahkan tubuhnya di kasur larut dalam kesedihan.
“Hidup ini kejam, sebegitu sempitkah dunia ini! Sampai orang-orang di dalamnya harus berputar dalam satu lingkaran yang sama!” lirihnya.
Ia berusaha tenang dan bersikap lebih dewasa. Ini hanya soal cinta. Menurutnya, Percuma saja ia belajar agama jika dengan cinta saja ia rapuh. “Cintaku telah kutitipkan. Maya bukan siapa-siapaku.” gumamnya.
Ia tak mungkin mengatakan yang sebenarnya kepada aris, ini akan memperkeruh suasana. Juga tak perlu mengatakannya pada maya, biarlah waktu yang mengabarkan. “Aku tidak boleh egois, sedang aku sendiri belum siap” ucapnya pelan. Ia luluh.
Setelah dirinya tenang ia balas sms abangnya,
“Semoga diterima bang, akan didoakan dari sini.”
Lalu duduk kembali di depan PC nya. Menatap keyboard tajam, dan mulai mengetik,
“Aku tak menyadari saat cinta datang
Tapi aku pemeran aktif saat cinta itu pergi
Aku menjauh karena jalan cinta yang kita tempuh terlarang
Masih murni di hatiku rasa cinta itu
Masih jelas di mataku saat kau tersenyum
Juga masih terdengar di telingaku saat kau berjanji
Namun untuk memenuhi keinginanmu aku tak mampu
Untuk menikahimu di umur 23 juga aku tak siap
Kini aku kan berusaha melupakan semuanya
Melupakan kenangan pahit dan manis saat bersama
Cintaku telah ku titipkan
Hiduplah dalam mahligai kebahagiaan dengan cintamu”
Setelah membaca balasan dari viki, maya menangis, “Viki, maafkan aku, aku hanya manusia lemah yang tak bisa menguasai dunia, tapi dunia yang menguasaiku. Aku bukan tak mau menunggumu, tapi kau seperti telah menutup harapan itu dengan pergi begitu saja dari hidupku” kata dalam hatinya. Ia menangis sampai tertidur di atas sajadah.
Sebulan telah berlalu, acara pernikahan pun dilangsungkan dengan khidmat. Dua insan yang tak saling mengenal akan menuju ke satu bahtera keluarga. Kini Ia setuju pendapat Stephen R. covey, Cinta adalah kata kerja dan rasa cinta itu adalah buah dari pekerjaan Cinta.
Setelah menikah, sifat aris yang cuek pada adiknya berubah. Abangnya kini sering menanyakan kabarnya lewat sms dan telepon. Satu sisi viki merasa senang atas perubahan sikap abangnya. Namun benaknya masih membeku menjadi perasaan saling bertentangan yang terpolarisasi dalam hitam dan putih, tak pernah terbayang abangnya sendiri yang membuatnya kehilangan cinta. Lalu viki menumpahkan isi hatinya di atas selembar kertas,
“Cinta yang aku perjuangkan dalam diam, telah pergi. Itu karena dunia lebih tahu ‘Dia Bukan Jodohku”.
*kru el Asyi
Cerpen Karangan: Musyari Aulia
Sumber : http://cerpenmu.com/cerpen-cinta-segitiga/dia-bukan-jodohku.html

Tak Sempat Memiliki

Cerpen Karangan: Yuliati Sholihah


Betapa hancur hati ini saat mengetahui bahwa aku dan temanku mencintai satu cowok. Bagai diiris-iris dengan pisau yang tajam, hatiku perih sekali ingin menangis tapi aku hanya bisa menahan tangisku dalam hati, aku tak mau dia tau kalau kita mencintai satu cowok, aku tak mau melukai hatinya.
Saat itu temanku Novie menemuiku di dalam kelas.
“Ti, ikut aku yuk,!” kata Novie
“kemana vie?” tanya ku
“taman”. Jawabnya sambil menarik tanganku, aku pun ikut ke taman dan duduk berdua di bawah pohon salobin, tempat biasa kita ngumpul saat istirahat.
“ti, aku mau ngomong sama kamu”.
“Apa? Ngomong aja ”.
“ti, aku…”.
“Napa kok nggak diterusin?” tanya ku
“Akhir-akhir ini aku bingung, banyak masalah sama temen-temen sekelas aku”.
“siapa sih” tanya ku
“Nia, aku bingung dia tuh mengira aku suka sama cowoknya karena ya… gitu deh ucapan ira”.
“Tapi kamu suka sama siapa?”.
“Entar pulang sekolah aku ikut ke rumahmu”.
Novie pun ikut pulang ke rumahku, sesampainya di rumahku Novie pun bercerita panjang lebar tentang cowok itu yang suka berdiri di pintu terkadang berdiri di jendala.
“Dia tuh item, bukan Cuma orangnya motornya pun item”.
“Siapa sih namanya?” tanya ku
“HH”.
“Heru Hermawan?” tanya ku.
“Nggak lah!!! Tuh kan pacarnya Nia”.
“Oh… iya ya, Heru kan pacarnya Nia”.
Dalam hati aku sudah menebak-nebak “HH” itu pasti Hafidz Hasyim, aku yakin ciri-ciri cowok yang dikatakan Novie “HH” itu pasti Hafidz, seketika saja hatiku bagaikan diiris-iris dengan pisau yang tajam, perih sekali rasanya. Aku tak bisa berkata-kata, ingin menangis tapi, ada Noviei di depanku. Mulut ini berat sekali rasanya saat aku bertanya pada Novie.
“Vie… HH ITU Hafidz Hasyim ya?”
Novie malah tersenyum, aku pun membalas dengan senyuman di atas jeritan hati yang merintih kesakitan.
Tak tahan hati ini walaupun semua yang ku rasakan ini sudah ku tumpahkan dalam coretan-coretan di diaryku, aku masih merasa…, akhirnya aku pun menceritakan unek-unek aku ke teman sebangku ku, saat itu kita lagi olahraga.
“Sa, gimana perasaanmu saat kamu suka sama cowok terus ada cewek lain yang suka sama cowok itu?”.
“Kamu kan tau sendiri, sampai aku bela-belain berantem ama cewek bego’ kaya gitu”. Jawab Lisa
Aku pun hanya tersenyum dan Lisa bertanya padaku
“Emang napa kamu kok tanya gitu?”.
“Em… em…” belum sempat ngomong udah disahut aja sama Lisa
“Aku tahu! Ayo ngomong, ngaku aja deh”.
“Sa…, kamu juga pernah merasakan hal yang sama ama aku, aku tuh udah suka sama cowok itu dari kelas 1 dan sekarang ada cewek lain yang suka sama cowok itu”.
“Emangnya siapa sih cowok itu?”.
Tanpa tedeng aling-aling aku langsung ngejawab.
“Hafidz”. Jawabku singkat sambil ku tarik tangan Lisa agar masuk ke ruang olahraga.
“Apa Hafidz?”. Tanya Lisa sambil tersenyum.
“Udah jangan keras-keras ntar ketahuan anak-anak dan awas jangan bilang-bilang kalau aku suka sama Hafidz”. Kataku
“Tapi bilang dulu siapa ceweknya yang suka sama dia ”. Kata Lisa sambil nunjuk ke arah Hafidz yang ada di luar kelasnya.
“Tiara, kok diem?”. Kalau nggak jawab ntar aku panggil Hafidz. Kata Lisa sambil memegang tangan aku, sudah ku coba tu melepasnya tapi sangat kuat pegangannya.
“Ayo bilang kalau enggak, ha…”.
“Iya… iya”. Kataku
“Gitu dong”. Kata Lisa sambil tersenyum
“Novie”.
“Apa? Novie. Aku kira dia nggak bisa jatuh cinta tapi ternyata…”
“Tapi awas, kamu udah janji sama aku, nggak bilang ke anak-anak ”.
Setelah ngomong ama Lisa sepertinya hati ini sudah agak legaan tapi… Lisa apa bisa dipercaya, dia kan mulutnya ember… ya udah, udah terlanjur gimana lagi kalau aku nggak curhat sama Lisa aku bisa stress mikirnya.
Akhir-akhir ini banyak sekali masalah dengan Novie, dari permasalahan yang pertama kita. Novie yang nggak lagi mikirin perasaan aku sebagai temannya, sekarang dia sering banget kesana kesini, ngomong ini itu dengan sahabat barunya, aku nggak habis fikir mengapa dia bisa begitu saja ninggain aku begitu aja.
Di depan kelas aku dan dia ngobrol berduan sama Ira dalam kelas, bayangkan gimana rasanya jadi patung hidup, tapi semua itu aku terima karena aku sudah menganggap dia sebagai sahabat walaupun dia hanya menganggap aku tak lebih dari teman, tapi, kalau sebatas teman mengapa dia curhat ke aku. Sampai sejauh ini, curhat tentang cowok yang ia sukai. Emang sih dia pernah ngasih surat ke aku isinya: “Gimana perasaanmu ke aku, kau anggap aku teman atau sahabat?”. Ya… begitulah alat komunikasi antara aku dan Novie, secarik kertas plus coret-coretan pertanyaan, kalau udah selesai dibaca sobek buang, terus dijawab dengan kertas baru. Semua itu kita lakuin karena kita beda kelas, mengenai pertanyaan itu aku hanya bisa menjawab “pertemanan bagaikan madu yang manis dan tidak menyakitkan, malah bisa ngobatin. Tapi kalau coklat emang sih… manis tapi bisa nyakitin, bikin sakit gigi”.
Itu tadi masalah pertama, masalah kedua yaitu… tentang cowok, dan cowok yang udah aku sukai lama… banget.
“Ti…” panggilan itu membuyarka semua yang menggerumuti kepalaku.
“Novie!?!” aku terkejut tiba-tiba Novie di sampingku
“Ada apa Nov?” tanyaku pada Novie, tapi dia hanya diam dan memberikan secarik kertas.
“Tiara, aku nggak bisa lagi memendam perasaan ini, aku pengen banget ngutarain isi hatiku pada Hafidz”.
“Terus kamu mau nembak Hafidz?” tanyaku, tapi Novie hanya tersenyum
“Kata Ira, memang selama ini yang dicari Hafidz tuh cewk kamu (Novie). Gitu kata Ira”.
“Eh… Vie, Ira tuh kayaknya tau bener semua tentang Hafidz?”
“Ira tuh mantan pacar Hafidz waktu SMP!”
Pantas saja Ira dukung banget Novie jadi cewknya Hafidz, mungkin emang cocok sama Hafidz.
“Ti, ke kelasku yuk…!!!” kata Novie, membuyarkan pikiranku, aku pun bersamanya pergi ke kelas Novie. Waktu kembali dari kelas Novie di perjalanan menuju ke kelasku tiba-tiba…
“Tiara”.
Aku pun menengok ke belakang ternyata yang memanggilku adalah Hafidz, aku pun mempercepat langkahku.
“Tiara…”. Teriak Hafidz
Bukannya tak kedengaran tapi aku hanya pura-pura tak mendengarnya, mendengar suaranya saja hati ini seperti teriris-iris, bukan hanya mendengar suaranya, melihat dan mendengar suara motornya saja hatiku sakit rasanya. Tapi aku harus rela demi sahabat, aku tak mungkin menyakitinya.
“Tiara… udah ngerjain tugas ekonomi belum?” tanya Lisa
“Apa? Tugas ekonomi, aduh… lupa Lis, gimana nih…? belum piket lagi”.
“Adu… Tiara, entar jam ke-5!!!”
“Gila kamu Lis, masih entar. Jadi gugup aku, ya udah entar waktu istirahat kita ke perpustakaan”.
Tak terasa waktu berjalan begitu cepat, bel istirahat berbunyi aku dan Lisa bergegas ke perpustakaan. Kita pun mencari berbagai buku referensi tentang ekonomi untuk nyelesain tugas.
“Huh… Akhirnya selesai juga ”.
“Capek deh gue”. sahut Lisa
“Aku balikin buku dulu”. Kataku sambil berjalan menuju rak buku.
“Tiara…”.
Suara itu begitu aku kenal dan hati ini…, Hafidz. Aku membalikkan badanku ke arah suara itu dan memang benar Hafidz.
“Tiara, aku mohon jangan pergi”. Kata Hafidz sambil memegang tanganku.
“Tiara, mangapa kamu akhir-akhir ini menghindar dariku?”
Aku tak bisa berkata apa-apa perih hati ini mendengar ucapan Hafidz.
“Kamu nggak seperti biasanya, ngobrol bareng…” belum sempat nerusin ucapannya aku udah nyaut gitu aja.
“Lepasin tanganku!!!”
“Ti…”.
“Lepas ku bilang!!! ” jawabku dengan volume suara yang keras. Aku pun berlari menuju ke kelasku, ya Allah sakit hati ini, selama ini…
“Tiara, ngapain kamu obrak-abrik buku-bukumu. Tadi kamu juga ninggalin aku di perpustakaan, terus disini kamu nangis?”.
“Udah deh Lis diem… aku nggak mau diganggu aku mau sendiri dulu”.
“Iya, aku keluar deh…”. Kata Lisa sambil ngerapiin buku-buku aku, lalu dia keluar.
“Lisa, Tiara mana?”. Tanya Hafidz
“Di dalam, ada apa?”
“Em…”. Kata Hafidz (nyelonong masuk kelas).
“Hafidz” kata Lisa sambil menarik Hafidz keluar.
“Eh…, kamu tuh ya, main nyelonong aja, keluar-keluar!!!”.
Tatapan Hafidz begitu tajam saat menatapku, sebenarnya aku pengen bilang sama kamu tapi aku… aku tak bisa. Aku tega melihat sahabatku Novie sakit, apa lagi Novie punya penyakit asma, belum lagi sejak… ya… mikirin Hafidz (tapi itu kata temen-temenku) Novie sering pingsan.
Pagi ini begitu cerah mog aja secerah hari-hariku, aku berangkat sekolah dengan penuh semangat dan berharap tak ada masalah hari ini. Entah mengapa walaupun kemaren aku habis bertengkar dengan Hafidz, hari ini kurasa beda. Sesampainya di sekolah, aku sudah disambut Lisa dengan senyuman yang… bisa dibilang aneh deh, senyam-senyum, cengir-cengir.
“Gila kamu, cengar-cengir ”. kataku Eh… malah Lisa tersenyum
“Ada apa, ada yang aneh?”.
“Kamu beda deh, lebih segar dari pada kemarin”. celoteh Lisa
“Memang kemaren…?” tanyaku sambil tersenyum
“Pake nanya lagi, senyum-senyum pula. Napa tiba-tiba nangis, marah, kesambet loe?”.
“Eh, Ti, kemarin aku dari rumah Ira”. Sambung Lisa
“Sama siapa kesana?”
“Ama Ira dan Novie ”. Jawab Lisa
“Kok bisa?”.
“Waktu itu habis pulang sekolah, Ira ke rumahku sambil bocengin Novie, terus aku di ajak ke rumah Ira nemenin Novie”.
“Terus disana gimana?” tanyaku
“Bagai patung hidup yang bisanya merem melek aja”.
“Maksud loe…?”
“Kamu kaya’ nggak tahu aja sih, aku dianggurin. Mereka ngomong aja berdua, ya… udah aku tinggal tidur”. Ungkap Lisa padaku panjang lebar
“Kasihan… deh loe!!!” Sahutku
“Eh… Ti, pas aku bangun aku denger Ira ngomong gini ama Novie. “Cepetan tembak enar kedahuluan Tiaa“ gitu dia bilang” jelasnya
Aku hanya diam, terserah mereka ngomong apa, yang jelas aku nggak ngerebut Hafidz darinya.
Hari ini aku mulai latihan
“Hai, Tiara” sapa Nuna
“Hai, Nun ”. balasku
“Dua minggu libur sekolah kamu kok makin cantik ”
“Sorry banget Nun, nggak ada recehan!!!”
“Kamu nggak bareng Lisa?”
“Aku udah ketinggalan, dia udah berangkat duluan”.
“Entar jangan lupa les jam 16.30”. Jelasnya
“Ok, deh bos!”
“Kalau gitu aku ke kelas dulu”.
Aku pun juga pergi ke kelasku, dan ngobrol ini itu ama temen-temenku nyeritain tentang liburan, dan tanpa terasa kita cuap-cuap sampai waktu istirahat.
“Bosen aku, dari tadi nggak ada gurunya!!!”. Ujar Hilda
“Pulang yuk!!!”. Ajak Nina
”ngawur kamu, entar dimarahin sama kepsek lho.” ujarku
“ya… sih, nina nih pengenya pulang ajah dari tadi.” ujar eka
“emang aku tadi udah males berangkat sekolah, habis pastinya belum ada pelajaran.” ungkap nina
“lha ngapain masih masuk?” tanyaku tapi nina Cuma ngebales dengan cengiran, tiba-tiba Fitria masuk kela sambil teriak-teriak.
“Hai… pulang yuk pulang…!!!”.
“Benar Fit?” tanya’ Nina dengan penuh semangatnya yang udah pengen pulang dari tadi.
“Lihat aja anak-anak kelas XII, udah pulang semua”.
“Ayo pulang- ayo pulang. Yuk Lis pulang bareng.” ajakku
Kita pun pulang bersama. Sesampainya di pintu gerbang kita pisah.
“Eh… Ti, entar jemput aku!”
“Entar jemput aku?” kataku sambil menirukan perkataan Lisa
“Kok gitu sih kamu…?”
“Nanti aku jemput kamu, terus kamu ntar dah pergi duluan.”
“nggak de…h!!!” kata lisa sambil masuk ke rumah dan aku… ya… gitu deh nerusin perjalanan pulang sendirian. Tiba-tiba ku dengar “Grung… grung-grung…” suara motor Hafidz, perasaanku mulai nggak enak aku pun mempercepat langkahku biar nggak sampai ketahuan Hafidz.
Mendengar suara adzan aku bergegas mandi, sholat lalu siap-siap berangkat ke sekolahan.
“Aduh… kurang 5 menit nih!!!” kataku sambil terburu-buru. Belum lagi ke rumah Lisa, aku pun pergi sambil berlari. Sesampainya di rumah Lisa, aku kena semprot…
“Tiara lama banget, aku udah nunggu dari tadi!!!”
“Sory banget, aku ketiduran”. bohong deh.
Sesampainya aku di sekolah, aku ngumpul sama anak-anak. Tiba-tiba Novie nyamperin aku.
“Tiara, aku pengen ngomong sama kamu”
“Ngomong apaan? sini ngomong aja!”
“Nggak disini, disana aja!” kata Novie sambil menunjuk ke arah pohon di taman sekolah. Aku dan Novie pun berjalan ke arah pohon dan duduk di bawahnya.
“Ada apa Nov…?”
“Aku mau cerita sama kamu”.
“Apaan? serius banget ya?”
“Ya… Em… Tiara aku udah nembak Hafidz”.
“Beneran kamu?”
“Beneran !!!”
“Tapi Nov, kan kamu cewk masa’ nembak duluan?”
“Iya… sih awalnya aku juga ngerasa begitu, tapi mereka mendukungku banget. Dan ngasih semangat aku tuk cepat-cepat nyatain perasaanku ke Hafidz”.
Dalam hati aku bertanya-tanya, kok Novie bisa senekat ini. Padahal kelihatan banget anaknya alim, tapi kok sampai segitu beraninya nembak Hafidz, teru siapa yang mensupport Novie sampai begitu yakinnya, kalau Ira sih jelas banget, tapi mereka? siapa lagi yah…
“Eh…, Nov. Kamu ngomong langsung ke Hafidz?”
“Nggak, aku lewat sms!!!”
“sms? Terus dia nya jawab apa?”
“Dia bales gini, “sapa ini jangan bercanda, emang kamu siapa?”. terus aku jawab, semua ciri-ciri aku”.
“Terus setelah Hafidz tau siapa kamu, gimana?”
“Entah lah… sampai saat ini nggak ada balesan dari dia, bingung aku jadinya”.
“Ya, sabar dulu mungkin dia lagi mikir”.
“Tiara…!!!”
“Hafidz sambil memegang”.
“Aku pengen ngomong ama kamu, aku harap kamu nggak menghindar dariku!!!” kata Hafidz sambil memegang erat tangan ku
“Apa-apaan sih kamu…?”
“Tolong dengerin aku!!!”
“Ya, tapi lepaskan tangan aku!!!”
Hafidz pun melepaskan tanganku dan meneruskan pembicaraannya.
“Tiara, aku dah pernah bilang sama kamu kalau aku tuh suka sama kamu, dan kali ini aku mau bilang sama kamu. Maukah kamu jadi pacarku?”
“Eh, Fidz, tega banget ya kamu, kamu gantungin Novie. Malah sekarang kamu nyatain perasaanmu ke aku.
“Tapi aku nggak suka sama Novie, aku sukanya sama kamu. Aku cintanya cuma sama kamu, Tiara!!!”.
“Stop… jujur aku juga suka sama kamu, aku cinta sama kamu. Tapi, cinta ta harus memiliki. Dan aku nggak mau nyakitin hati temen aku, karna aku dah menganggap dia seperti sahabatku walaupun dia nggak pernah menganggap ku”.
“Tuh dia saja tak menganggap kamu, ngapain masih mikirin perasaannya?”
“Aku seorang wanita dia juga seorang wanita, kamu nggak bisa ngerasain gimana hati seorang wanita?”
“Jadi kamu nggak mau jadi pacar aku, hanya karena si Novie yang nggak pernah menganggap kamu itu. ha…?”
“Perlu kamu ketahui saat ini kamu saat ini Novie sedang di rawat di ICU, dan semua itu karena sikap kamu, kelakuan kamu, keegoisan kamu!!!”
“Apa ke egoisanku? egois apa coba, ha… !?! apa… apa…?”
“Karena kamu telah mementingkan perasaanmu, dari pada perasaan orang lain”.
“Tiara, aku tanya terakhir. Apa hati kamu tak sakit, kamu mementingkan perasaan Novie ketimbang perasaanmu, gimana yang kamu rasakan?”
Aku pun hanya bisa terdiam, menundukan wajahku. sakit sakit banget yang kurasakan, perih hati ini. Mungkin saat ini aku tak sempat memilikimu Hafidz tapi di kehidupan yang akan datang aku yakin kita bisa bersatu.
“Kenapa kamu diam…?”
“Udah fidz, sekarang aku pengen kamu nemuin Novie di rumah sakit, bilang ke dia kalo kamu juga suka sama dia!!!”
“Kalo aku nggak mau gimana?”
“Ini semua demi nyawa Novie, fidz. Aku mohon banget sama kamu!!!”
“Emang harus aku mikirin Novie?, emang kenapa sih Novie itu?”
“Dia punya penyakit asma akut, kemarin dia curhat sama aku tentang kamu saat les vokal. Dia bilang bingung mikirin sikap kamu awalnya perhatian, tiba-tiba acuh dan gantungin perasaannya, tiba-tiba saja dia sesak nafas, kejang-kejang dan pingsan sampai sekarang. Entah kenapa bisa gitu?, dan Cuma nama kamu yang terus-terus dipanggil”.
“Terus apa urusannya ama aku?”
“Pake nanya lagi, ya Cuma kamu yang bisa nolong dia. tau…?”
Hafidz pun hanya bisa terdiam membisu.
“Kaya patung sih kamu, ayo… ikut aku. Dan bilang ama Novie kalo kamu juga suka ama Novie!!!”
“Kenapa harus begini, aku cintanya Cuma ke kamu. Kenapa bisa melakukan seperti ini? padahal kamu juga suka sama aku?”
“Kenapa? karena Novie tak punya kesempatan lagi, hanya kali ini saja nyawanya bisa di selamatkan!”. Jawab sambil berjalan dan menyeret tangan Hafidz.
Entah mengapa rasa ini begitu kuat untuk membawanya ke rumah sakit. Saat ini yang ada dalam hatiku, dalam pikiranku bagaimana caranya supaya Novie bisa terselamatkan aku nggak mau lagi melukai temanku, aku sudah pernah merasa merasa bersalah banget ama Novie. Sebagai teman yang sudah ku anggap sahabat, aku hampir saja membunuhnya, waktu itu hujan gerimis tak henti-henti hingga taman sekolah becek tergenang air dan menjadi licin, saat itu kita bercanda sama temen-temen, tanpa sadar aku ngedorong temanku terus temanku tak sengaja menarik Novie hingga terjatuh dan menggelinding. Seketika saja aku menjerit dan aku berlari ke arah Novie, tubuhnya sangat lemas dan dingin sekali.
Kita bergegas membawanya ke ruang UKS, setibanya di UKS Novie kejang-kejang. Saat itu aku merasa bersalah banget ama Novie karena aku, dia hampir kehilangan nyawanya, dan sekarang aku tak mau kehilangannya.
“Tiara, mana kamar rawat Novie?”
“Disana, No 8 kamar mawar”.
“Oh… ini, Tiara apakah aku harus ngomong gitu?”.
“Udah deh fidz !!! dari tadi nanya terus, tadi kamu bilang pertanyaan terakhir, tapi masih nanya terus beberapa kali. Ayo… masuk!!!”
Aku pun bergegas membuka pintu, ternyata Novie udah sadar, syukur deh…
“Nov, gimana keadaan kamu?”
“Alhamdulillah, udah mendingan”.
“Nov, Hafidz mau ngomong ama kamu”.
“Hafidz?”.
“Ya… mana tuh anak, Hafidz ngapain kamu di balik korden? Sini cepet !!!”
Hafidz pun menampakkan dirinya dan mendekat ke Novie.
“Aku keluar dulu ya… mau beli minum”.
“Tiara…,” Kata Hafidz sambil memegang tanganku, berusaha menahanku aku pun melepaskan genggamannya.
“Hafidz, mau ngomong apa?”
“Novie aku mau bilang, kalo.. kalo… emmm…, kalo aku juga suka sama kamu. Sorry mungkin karena aku kamu jadi begini?”
“Nggak apa-apa, tapi kenapa baru sekarang jawabnya?”
“Aku bingung jawabnya, dan baru sekarang aku ngerasa. Maafkan aku Nov!!!”.
Hafidz… entah rasa apa yang kurasakan saat ini, merasa takut kehilangan kamu, tapi mengapa begitu? Padahal akunya juga nggak pernah merasa memiliki, tapi ku rasa harus begini jalannya. Bukan aku tak bisa memilikimu tapi aku hanya tak sempat memiliki dirimu walaupun begitu, aku masih bisa bahagia pernah mencintaimu karena cinta tak harus memiliki.
END
Cerpen Karangan: Yuliati Sholihah
Sumber : http://cerpenmu.com/cerpen-persahabatan/tak-sempat-memiliki.html

Cintaku Pupus Demi Sahabatku

Cerpen Karangan: Ayu Cahya


Namaku Anna Rosita aku bersekolah di SMAN 1 Mengwi. Aku tinggal bersama Ayah dan Nenekku. Ibuku sudah meninggal sejak aku berumur 5 tahun. Sekarang aku berumur 17 tahun. Aku sudah 12 tahun kehilangan Ibuku.
Hari ini adalah hari pertama sekolah setelah liburan semester. Seperti biasa aku ke sekolah berjalan kaki karena sekolahku lumayan dekat. Saat di perjalanan ada yang memanggilku dari belakang.
“Anna… Anna…”
Aku pun menoleh ke belakang. Ternyata dia Risa. Risa adalah temanku sejak baru sekolah di SMA.
“Kenapa Ris” Tanyaku
“Aku mau minta tolong padamu, sepulang sekolah antarkan aku ke toko buku ya?” Jawab Risa kepadaku
“Baiklah” jawabku
Setelah itu Aku dan Risa berangkat ke sekolah barengan. Sampai di sekolah Risa melihat Tommy yang sedang duduk di lapangan basket sendirian saja. Kami pun menghampirinya.
“Woy, ngapain di sini sendirian, ntar kesambet loe” Canda Risa
“Aku cuma ngeliat permainan basket kita, yang sudah berkurang” jawab Tommy
“Iya sih, gak ada kamu jadinya pemain basket di sekolah ini terus berkurang” jawabku sambil melihat pemain basketnya
“Ngapain kamu gak masuk lagi aja jadi kapten basket?” Tanya Risa
“Aku mau masuk lagi, tapi orangtuaku nggak ngebolehin” jawabnya
“iya juga sih, mendingan kita ke kelas aja, daripada ngeliat ini, jadinya kamu inget masa lalu” kataku.
Kami bertiga langsung memasuki kelas. Kami bertiga sekelas yaitu XI IPA 2.
Sampai di kelas bel pun berbunyi bertanda pelajaran segera di mulai. Pelajaran hari ini sangat menyebalkan, baru sekolah sudah dikasih tugas. Kami disuruh membuat laporan tentang liburan tetapi berkelompok. Aku pun berpikir.
“Kalo berkelompok, pastinya liburan Aku dengan teman-teman berbeda, gimana caranya buat laporannya”
Guru pun menjelaskan tentang laporan tersebut.
“Kalian harus mencari tempat yang cocok untuk liburan bersama teman-teman dan keluarga. Misalnya di pegunungan, kalian harus mencantumkan alamat, keindahannya, kesejukan dan lain sebagainya” jelas gurunya
Aku dan Risa baru mengerti. Tiba-tiba Tommy memanggilku dan bertanya sesuatu.
“Anna boleh nggak kalo aku gabung ke kelompokmu?”
“Boleh kok Tom ngapain nggak” jawabku.
Bel berbunyi tanda istirahat. Aku dan Risa memutuskan untuk tidak ke kantin, karena aku dan Risa memikirkan tempat yang cocok untuk liburan itu. Aku pun browsing d internet. Dan ternyata tempat yang indah, nyaman dan sejuk itu di Raja Ampat. Tempatnya cukup indah dan sejuk. Karena disekelilingi oleh lautan. Aku langsung memberitahu Risa dan tommy.
“Bagaimana kalo tempatnya itu Raja Ampat, tempatnya cukup indah dan sejuk”
“Nahh, bagus juga tu” jawab mereka serentak.
Sepulang sekolah kami memutuskan untuk langsung membuatnya. Tapi kami mampir ke toko buku trlebih dahulu. Kemudian langsung ke rumahku. Sampai di rumah kami langsung mngerjakan tugas tersebut. Saat itu aku memandangi wajah Tommy yang begitu manis. Lama kelamaan aku merasakan hatiku berdebar kencang saat ada di dekatnya. Apa ini yang namanya Cinta.
Cinta membuatku terus memikirkannya. Setelah tugas itu selesai Risa dan Tommy langsung pulang.
“Aku pulang dulu ya Anna, ingat besok bawa tugasnya” Kata Tommy sambil tersenyum.
“Aku juga, bye” Kata Risa dan langsung berjalan.
“Bye” jawabku.
Setelah itu aku langsung ke kamar dan langsung tidur karena kecapean. Saat tidur aku bermimpi aku dan Tommy pacaran.
Pagi harinya Aku memutuskan untuk sekolah pagi, karena aku dapat piket. Di perjalanan Aku melihat Tommy berjalan sendirian. Aku pun menghampirinya. Saat aku ingin menghampirinya ada seorang cewek yang langsung datang menghampiri Tommy sambil berpegangan tangan. Aku pun memutuskan untuk berjalan di belakangnya. Di depanku Tommy dan cewek itu sangat romantis dan tertawa bareng. “aku berpikir siapa cewek itu kq akrab banget sama Tommy”. Sampai di sekolah Tommy masih bersama cewek tersebut sampai di kelas kami. Ternyata cewek itu sekelas dengan kami berdua. Dia adalah Maya. Saat Tommy duduk aku langsung menanyakan kedekatannya dengan Maya.
“Tom Maya itu pacar kamu ya”
“Iya Na, aku udah sebulan lebih pacaran denganya” jawab Tommy
Aku terkejut dan langsung duduk di tempat dudukku. Saat Risa datang dia memberitahuku tentang Tommy.
“Anna aku mau memberitahumu bahwa Tommy sudah punya pacar, tuh pacarnya si Maya” sambil menunjuk si Maya
“Aku dah tahu kok Ris” jawabku sedikit sedih
“ouh, kok nadamu sedih gitu ada masalah ya, atau kamu cemburu?” tanya Risa kepadaku
“Hmmmm, enggak kok ris siapa yang cemburu, aku cuma sedih karena aku nggak bawa tugasnya” jawabku gugup
“ouh, gak apa kali, besok juga boleh kok bawa” kata Risa sambil tertawa
Kami berdua pun langsung tertawa bareng.
Sepulang sekolah aku aku langsung pulang sendirian. Sampai di rumah aku ke kamar dan langsung menangis. Hatiku terasa sakit setelah aku tahu Tommy sudah punya pacar. Hari-hariku hanya menangisi Tommy. Tiba-tiba terdengar suara Risa sambil mengetuk pintu. Aku langsung menghapus air mataku dan membukakan pintu untuk Risa.
“Ehh Risa, ngapain kamu kesini?” tanyaku
“Kamu lupa ya catatanmu masih di aku, sekarang aku mau ngebalikinnya” jawab Risa
“ouh iya, makasih ya udah bawa kesini” kataku
“Oke Na, kayaknya kamu tadi nangis ya, pipimu basah, pasti nangisin Tommy ya?” Tanya Risa kepadaku.
“Hmmm, enggak kok siapa bilang aku nangisin Tommy, kurang kerjaan banget” Jawabku sambil marah.
“Kalo gitu ngapain kamu marah, jujur aja Anna, keliatan banget kok kamu tu suka sama Tommy” jawab Risa.
Aku tidak bisa menyembunyikan dan memendam perasaan ini sendirian. Jadi aku memutuskan untuk cerita kepada Risa bahwa aku menyukai Tommy.
Hari ini aku bangun kesiangan karena terlalu menangisinya dan memikirkan Tommy. Jadi aku langsung bergegas mandi dan sarapan. Setelah itu aku langsung berangkat ke sekolah. Tiba-tiba saat aku membuka pintu, sudah ada Tommy di depan pintu.
“Berangkat bareng yuk” Kata Tommy
“Ahh, beneran, ntar pacarnya marah lagi” kataku
“Siapa Maya, aku dan dia udah putus dengannya” Katanya
“Kok bisa? Tanyaku
Di perjalanan Tommy bercerita tentang berakhirnya hubungan dia dengan Maya.
“Aku putus dengan Maya karena dia pindah sekolah ke luar negeri, karena ayahnya dia dipindah tugaskan, jadi yah putus”
“Sabar ya, mungkin dia bukan jodohmu” jawabku.
“Emang kaya di sinetron apa” jawab Tommy sambil tertawa
Kami pun meneruskan perjalanan sampai di kelas.
Sampai di kelas aku sudah melihat Risa yang udah duduk sendirian. Aku pun langsung menghampirinya dan langsung duduk di sebelahnya.
“Ehh Anna udah dateng, kok tumben siang banget datengnya?” Tanya Risa
“Aku bangun kesiangan. Kalo kamu kok tumben pagi dateng?” Tanyaku ke Risa
“Aku ken sekarang piket Na, kamu lupa ya. Kamu udah denger berita belum?” Kata Risa
“Ouh iya aku lupa. Berita tentang putusnya Tommy dengan Maya ya?” Kataku.
“Iya, kok tahu?” Tanya Risa kepadaku
“Dia yang cerita kepadaku, tapi kok dia biasa aja ya? Kok nggak sedih?” jawabku.
“Liat dulu dong ke belakang” kata Risa
Saat aku melihat ke belakang ternyata dia sedih dan mukanya murung. Pastinya dia sangat kehilangan Maya. Jadinya hatiku campur aduk, ada senang dan sedih. Senang karena Tommy sudah putus dengan pacarnya, pastinya dia akan mencari pengganti baru dan membukakan hatinya untuk orang lain. Aku sedih karena Tommy sangat sedih kehilangan pacarnya. Aku bingung gimana caranya menyatakan perasaan ini.
Saat istirahat aku melihat Tommy sedang duduk sendirian di taman sekolah, aku pun memberanikan diri untuk menghampirinya dan aku akan menyatakan perasaan ku. Saat aku udah di dekatnya terlebih dahulu aku basa-basi sebelum menyatakan perasaan ini. Setelah itu baru menyatakannya
“Hai Tom, kok sendirian aja?” tanyaku
“Hai Anna, iyaaaa lagi duduk-duduk aja. Ayo duduk disini” kata Tommy
“Iya, hmmm, aku mau nanya sebenarnya kamu nganggap aku apanya kamu?” kataku
“Aku hanya menggapmu sebagai temanku, teman yang bisa diajak curhat dan berbagi pengalaman” jawab Tommy
”Aku sebenarnya menyukaimu Tom, aku udah lama memendam perasaan ini” kataku sambil menangis
“Tapi aku Cuma menganggapmu sebagai temanku aja Anna, karena teman itu ada di saat kita sedih ataupun senang. Kita lebih baik temen aja Na” jawab Tommy
Aku pun langsung lari meninggalkan Tommy. Hati ini terasa sakit sekali setelah mendengar pengakuan dari Tommy. Aku tidak bisa menahannya, aku pun menangis sambil berlari. Tiba-tiba aku menabrak Risa yang sedang membaca buku.
“Kamu kenapa Na kok nangis?” Tanya Risa
“Aku tadi menyatakan perasaanku ke Tommy, tapi dia hanya menganggapku sebagai temannya aja” kataku
Aku lupa sekarang hari ulang tahunnya Risa, aku langsung menghapus air mataku dan mengucapkan happy birthday ke Risa. Dan disaat hari ulatng tahunnya Risa mengadakan pesta dirumahnya. Ris mengundang teman-teman semua terutama Tommy. Saat tiba di rumah Risa, semuanya sudah datang, jadi acara potong kue pun dimulai. Tapi mengapa potongan kue yang pertama diberikan ke Tommy, kenapa bukan aku sahabatnya sendiri. Aku terkejut tiba-tiba aku melihat Tommy sedang memegang tangan Risa dan menyatakan perasaannya. Dan Risa pun menerima Tommy. Aku sedikit sedih dan kecewa dengan sahabatku. Tapi karena dia sahabatku aku merelakan Risa dan Tommy jadian. Asalkan sahabat dan temanku bahagia. Dan aku sadar bahwa cinta tak harus saling memiliki.
Cerpen Karangan: Ayu Cahya
Sumber : http://cerpenmu.com/cerpen-cinta-segitiga/cintaku-pupus-demi-sahabatku.html

Pahitnya Pengkhianatan

Cerpen Karangan: Claudia Fristisa


Nama aku Felly, aku sekolah di salah satu SMA di Yogyakarta aku kelas XII ipa 1. Aku mempunyai seorang pacar yang bernama Angga dan seorang sahabat bernama Keshi, kami bertiga satu kelas. Aku pacaran sama angga dari kelas IX SMP sampai sekarang. Hubungan aku sama angga berjalan dengan lancar dan baik-baik saja. Tapi, entah kenapa aku merasa ada yang beda dari angga, dia sudah jarang sms dan nelfon aku, di kelas juga dia sudah kurang perhatian sama aku malah dia lebih perhatian sama keshi sahabatku.
Hari ini adalah hari minggu biasanya aku dan angga pergi ke pantai atau ke alun-alun kota untuk jalan-jalan, aku berencana megajak angga jalan-jalan ke pantai. Aku pun menelfon angga, gak lama angga pun mengangkat telfon dari aku.
“hallo sayang ada apa” Tanya angga
“Sayang kita jalan-jalan ke pantai yuk” ajak ku
“maaf sayang aku gak bisa aku lagi mau jemput sepupu aku di bandara, maaf ya sayang” jawab angga
“ya udah kalau gitu lain kali aja kita jalan-jalan ke pantai” jawab ku dan langsung menutup telfon.
Aku pun merasa bosan di rumah, akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke pantai sendirian. Karena hari ini hari minggu jadi penggunjung di pantai sangat ramai.
Aku pun jalan-jalan di tepi pantai, tiba-tiba aja pandangan ku tertuju pada dua orang yang lagi jalan-jalan di tepi pantai sambil berpengangan tangan layaknya seorang kekasih dan orang itu adalah angga dan keshi. Tiba-tiba saja angga melihat ku dan langsung melepaskan pegangan tanganya.
“oohh… jadi ini yang dimaksud lagi jemput sepupu di bandara, tega ya loe bohongin gue”
“felly, gue bisa jelasin semua ini” kata angga
“jelasin apa lagi semuanya udah jelas, loe itu udah ngebohongin gue, apa salah gue sama loe sampai loe tega ngebohongin gue, dan loe keshi gue gak nyangka ternyata loe musuh dalam selimut, punya dendam apa loe sama gue.” Kata-kata itu terlontar begitu saja dari mulut ku
“maafin gue fell” keshi berkata sambil menundukkan kepala
“semudah itu loe bilang maaf ke gue, loe fikir dengan mudah maafin loe yang udah ngekhianati sahabatnya sendiri dan loe angga gue gak nyangka ternyata loe tega ngekhianati gue dan hubungan kita selama ini.”
“iya, gue tau tapi mau gimana lagi gue sayang angga dan angga juga sayang sama gue” tutur keshi
“angga benar yang dibilang sama keshi..?” Tanya aku
“fell maafin gue, sebenarnya gue sayang sama loe dan juga keshi gue bingung fell” jawab angga
“oke, kalau loe gak bisa milih antara gue sama keshi, mending gue aja yang pergi. Makasih atas cinta loe selama ini sama gue sampai kapan pun kalian gak akan ngerti rasa sakit dan pahitnya pengkhianatan ini.”
“maafin gue fell” tutur angga dan keshi
Kini persahabatan aku dan keshi telah hancur dan hubungan aku dan angga juga sudah berakhir. Kini aku menjadi cewek yang cuek dan tak mau lagi mengenal pacaran dan persahabatan.
Cerpen Karangan: Claudia Fristisa
Sumber : http://cerpenmu.com/cerpen-cinta-segitiga/pahitnya-pengkhianatan.html

Senin, 29 Juni 2015

Cinta Yang Sama

Cerpen Karangan: Dita Atma Nila Sari


Aku terus memandangi hujan yang turun melalui jendela kamar yang tertutup oleh kaca. Jemariku menyentuh kaca itu. Terasa dingin di jariku. Padahal ini seharusnya sudah memasuki awal musim kemarau. Namun hujan berintensitas sedang masih sering turun.
Ku dengar suara ponsel Wina berbunyi. Aku membalikkan badanku dan meraih ponsel tersebut. Ada satu pesan dari orang bernama Angga. Aku baca pesan itu. “Sore Wina, lagi apa? Jaga kesehatan ya, hujan masih sering turun walaupun seharusnya sudah memasuki musim kemarau. Jangan lupa minum vitamin C.” itulah pesan yang aku baca.
“Ih, Rena curang. Ngapain coba baca-baca pesan gue.” Kata Wina seraya merebut ponselnya yang masih kupegang.
“Apaan sih? Angga itu siapanya elo sih? Pacar ye?” tanyaku sambil agak cemberut.
“Kepo banget sih. Bukan. Angga itu temen gue. Tapi gue suka sama dia. Dia perhatian banget sama gue. Tapi dia nggak pernah bilang kalau dia suka sama gue. Itu yang gue keselin.” Katanya sambil memberikan secangkir minuman coklat hangat padaku.
“Thanks. Tapi yang gue lihat dari sms dia sepertinya dia suka tuh sama lo. Buktinya dia perhatian sama lo. Sampai segitunya lagi.” Kataku seraya mengerutkan kening.
“Udah deh. Nggak usah bahas dia. Gue punya komik Jepang baru. Mau baca nggak?” katanya seraya mengambil komik yang berada di meja. Lalu menyerahkan komik itu kepadaku.
Aku berjalan di jalan yang sepi siang itu. Hujan masih turun dengan derasnya. Aku menggunakan payung agar aku tidak basah. Jalan sepi, tak ada seorang pun yang melintas. Aku tengok kanan dan kiriku. Hanya ada derai air hujan yang menjatuhkan diri di jalan aspal itu.
Tiba-tiba aku mendengar suara yang mengejutkan. Aku menoleh ke belakang. Aku melihat seorang pria bersama motornya sudah tergeletak di jalan yang sepi. Aku berlari ke arah orang tersebut. Aku membantunya berdiri dan menuntunnya berjalan menuju kontrakanku.
Setibanya di kontrakan aku menyelimuti pria tersebut dengan selimut hangat. Aku pergi ke belakang untuk membuatkannya coklat hangat agar tubuhnya hangat dan tenaganya kembali pulih. Aku menghampirinya yang sedang terbaring lemas di sofa. Namun dia sudah sadar dan memandangi sekeliling.
“Sudah sadar ternyata. Ini aku buatkan coklat hangat agar kamu nggak kedinginan lagi.” Kataku seraya memberikan secangkir coklat hangat. Kemudian dia menerimanya dan meminumnya.
“Terima kasih. Namaku Yudha. Kamu siapa?” tanyanya seraya meletakkan cangkir yang berisi coklat hangat ke meja.
“Aku Renata. Kamu sudah nggak apa-apa kan? Sudah bisa jalan belum?” tanyaku.
“Aku baik-baik saja. Aku bisa jalan kok. Cuma luka-luka kecil aja kok.” Katanya sambil memeriksa kedua kakinya.
Lumayan lama kami mengobrol. Ternyata Yudha orangnya asyik diajak bicara. Dia adalah seorang mahasiswa di sebuah PTN. Umurnya hanya 2 tahun lebih tua dariku. Dan dia tinggal tidak jauh dari kontrakanku. Hanya seperempat jam perjalanan menggunakan motor.
Setelah puas mengobrol dan badannya kembali pulih, Yudha berpamitan pulang. Sebelum dia pulang, kami sempat bertukaran nomor ponsel. Dia juga berjanji akan sering main ke rumahku atau mengajakku ketemu di luar rumah.
Siang itu aku baru saja pulang dari kampus. Namun aku mampir ke rumah Wina. Katanya Wina ingin curhat sesuatu padaku. Aku langsung menuju ke rumah Wina. Sesampainya disana, aku langsung disambut oleh ocehan Wina. Lagi-lagi dia bercerita tentang Angga.
Setelah Wina puas curhat tentang Angga, giliranku curhat tentang Yudha. Wina nampak sangat serius mendengarkan curhatku. Mungkin karena sudah lama aku tidak curhat padanya tentang cowok yang dekat denganku. Yah, itu karena memang aku dulu tidak punya teman dekat cowok.
Saat aku curhat tentang Yudha kepada Wina, aku merasa bahwa aku memang benar-benar jatuh cinta kepada Yudha. Sudah lama aku tidak merasakan jatuh cinta setelah aku putus dengan pacarku dua tahun lalu ketika aku masih SMA. Sejak saat itu aku ingin menutup pintu hatiku untuk siapa pun. Namun sekarang berbeda. Yudha datang dan membawa kembali rasa itu. Rasa yang telah sekian lama menghilang.
Sore yang cerah itu aku baru pulang dari kampus. Aku berjalan pulang menuju kontrakanku. Kontrakanku sudah mulai terlihat pagarnya. Mungkin tinggal 100 meter lagi aku sampai. Lelah kurasakan di kakiku. Keringat pun membasahi sekujur tubuh.
Aku mengambil ponselku yang berbunyi dari tasku. Ternyata sms dari Yudha. “Renata, nanti malam bisa kan menemui aku di restoran yang biasanya kita bertemu? Ada sesuatu yang perlu aku omongin ke kamu. Usahakan datang ya, jam 7.” Begitulah sms dari Yudha.
Sesampainya di kontrakan, aku langsung menjatuhkan diriku ke sofa. Sekitar beberapa menit aku beristirahat. Kemudian aku mandi. Aku memilih gaun yang cocok yang akan kukenakan saat nanti ketika aku menemui Yudha. Setelah semuanya siap baru aku pergi ke restoran dimana aku dan Yudha berjanjian.
Aku sampai di tempat yang aku tuju. Aku melihat disana telah ada Yudha. Aku segera menghampiri Yudha. Saat itu melihatku, dia tersenyum sambil mempersilahkan aku untuk duduk. Dia menarikkan aku kursi agar aku duduk. Dia terlihat romantis sekali.
Setelah aku duduk, Yudha memandangiku beberapa saat lamanya. Kemudian dia tersenyum sambil meraih tanganku dan menggenggamnya. Aku merasakan jantungku berdegup lebih kencang dari pada biasanya saat Yudha menggenggam tanganku. Aku berusaha sekuat tenaga agar tidak terlihat gugup di depan Yudha.
“Re, telah lama aku menyimpan perasaan ini kepadamu. Aku mencintaimu. Setiap malam aku bertanya pada diriku sendiri. Apa gerangan yang terjadi padaku? Namun sepertinya jawaban itu muncul ketika aku melihat matamu. Aku seolah menemukan apa yang selama ini aku tanyakan pada diriku sendiri. Aku mencintaimu Renata.” Kata Yudha seraya mencium punggung tanganku.
“Yudha, aku juga mencintaimu. Sudah lama hatiku tertutup untuk siapa pun. Namun kamu telah membuka kembali pintu hatiku. Aku merasa ada yang berbeda ketika aku berada di dekatmu. Aku merasa kamu telah membawaku kembali kepada hidupku yang dulu.” Kataku kepada Yudha. Mataku mulai berkaca-kaca. Namun aku berusaha untuk tidak menangis di hadapan Yudha.
Sejak malam itu aku resmi menjalin hubungan dengan Yudha. Aku sangat mencintai Yudha. Begitu pula Yudha. Dia selalu memperhatikanku. Dia selalu mengingatkanku untuk menjaga kesehatan. Terkadang dia juga membantuku untuk mengerjakan tugas kuliahku. Hingga akhirnya aku menyelesaikan skripsiku dan aku wisuda.
Aku mengundang Yudha dan kedua orangtuaku untuk datang ke acara wisudaku. Aku juga ingin memperkenalkan Yudha kepada orangtuaku dan kepada Wina.
Aku datang ke acara wisuda bersama orangtuaku. Dan Yudha akan menyusul nanti. Aku berjanji pada Wina bahwa aku akan memperkenalkan Yudha kepadanya. Aku sudah tidak sabar menunggu kedatangan Yudha.
“Mana sih Re, pacar lo?” Tanya Wina tak sabaran.
“Ih sabar dong Win. Sebentar lagi juga datang kok.” Kataku sambil terus celingukan. Tak lama kemudian aku melihat Yudha menghampiriku sambil tersenyum.
“Eh itu pacar gue.” Kataku sambil menunjuk ke arah Yudha. Sementara Yudha terus menghampiriku.
“Itu kan Angga. Itu Angga yang gue ceritakan ke elo. Itu orang yang gue sukai.” Kata Wina tak percaya.
“Hai. Lho kamu kan Wina. Kamu temannya Renata ya. Selamat ya kalian sudah wisuda. Sudah jadi sarjana.” Kata Yudha sambil menjabat tanganku dan tangan Wina.
“Tunggu. Kamu ini Angga atau Yudha sih?” Tanya Wina.
“Namaku Angga Prayudha. Aku belum pernah menceritakannya pada kalian ya. Maaf.” Kata Yudha masih tetap dengan muka yang tersenyum.
Mengetahui bahwa orang yang dia cintai adalah pacarku, Wina tertunduk. Aku bisa melihat matanya berkaca-kaca. Aku pun merasakan apa yang Wina rasakan. Dan aku sungguh tak menyangka bahwa aku dan Wina mempunyai cinta yang sama.
Aku tak dapat menyalahkan Wina ataupun Yudha. Karena aku tau Yudha tidak selingkuh. Bukan. Aku tahu Yudha hanya berteman dengan Wina namun dengan nama yang berbeda. Dan aku menganggapnya wajar jika Wina mencintai sosok Yudha yang selama ini diketahui olehnya adalah Angga.
Sejak saat itu, aku merasakan ada yang berbeda dari sikap Wina kepadaku. Aku merasa Wina canggung kepadaku. Aku sengaja tidak memberi tahukan kepada Yudha bahwa Wina menyukainya. Yah, karena inilah permintaan Wina. Aku pun pernah bermaksud untuk mengakhiri hubunganku dengan Yudha, namun Wina melarangku. Wina tidak mau menjadikan dirinya sebagai alasan berakhirnya hubunganku dengan Yudha.
Wina sungguh baik. Dia tidak pernah marah kepadaku walaupun orang yang dia sayangi adalah kekasihku. Bahkan dia bertekad akan ikut mempertahankan hubunganku dengan Yudha. Dia hebat, dia rela menghancurkan hatinya sendiri untuk kebahagiaan orang yang dia sayangi. Aku tau dan aku merasakan hatinya hancur ketika melihat aku jalan berdua dengan Yudha. Maafkan aku Wina.
Cerpen Karangan: Dita Atma Nila Sari
Sumber : http://cerpenmu.com/cerpen-persahabatan/cinta-yang-sama.html

Cinta Tak Terucap

Cerpen Karangan: S Rokhmatul Umah

Aku tidak pernah punya kesempatan untuk mengenalnya lebih dekat, seseorang yang sampai sekarang menjadi inspirasi di hidupku. Rama, sebuah nama yang tidak pernah bisa aku sebutkan, entah kenapa aku pun tidak tau, dia mungkin terlalu sempurna untuk ku, dia baik, pintar, tampan, sholeh, siapa yang tidak menyukainya, aku mungkin hanya sebagian kecil orang yang beruntung bisa mengenalnya walaupun tidak terlalu dekat, dia tersenyum padaku namun aku terlalu kaku untuk membalasnya, aku terlalu dingin untuk kehangatannya, aku terlalu keras untuk kelembutannya, aku seseorang yang mengaguminya dalam diam, aku lebih suka ini, aku lebih suka melihatnya dari kejauhan, memperhatikan tingkah lakunya dari balik tumpukan buku saat dia di perpustakaan. Sampai suatu hari aku melihat dia tersenyum dengan seseorang yang aku kenal, sahabat ku ifa, “semoga kalian bahagia ” hanya seutas kata itu yang mampu aku ucapkan, aku tidak punya hak apapun untuk melarang mereka, untuk melampiaskan kekecewaanku pada mereka, mereka pun tidak tau aku mengaguminya.
“okha!!” suara dari kejauhan yang memanggilku saat aku akan pergi,
“iya, kenapa, aku buru-buru, cepet” balasku dingin seperti biasa
“kamu pulang sendiri saja ya, aku mau jalan dulu sama rama” sudah ku duga itu yang akan dia katakan padaku aku hanya membalas dengan senyuman dan berlalu meninggalkannya. Kecewa memang, tapi apa dayaku, aku sangat berbanding terbalik dengan sahabatku, ifa gadis yang cantik, baik, ramah, pintar dan menyenangkan, sedangkan aku? Cuek, dingin dan tidak suka dandan seperti ifa.
Pagi ini aku berangkat seperti biasa. Dengan langkah santai aku lewati lorong-lorong sekolah, angin pagi ini senang sekali memainkan ujung jilbabku dan mengajaknya terbang-terbang kecil bersama. Hari ini aku dengar kabar yang tidak enak di telingaku, aku dengar rama dan ifa putus kemarin, kenapa?, mungkin akan ku tanyakan nanti saat ifa datang.
Benar saja ifa datang dengan butiran bening di mata dan pipinya. “kenapa fa?” aku mencoba menenangkannya dan mengajaknya pelan-pelan menjelaskan masalah yang membuat sahabatku ini menangis.
“aku putus sama rama kemarin, aku tidak tau dia kenapa seperti itu, tapi dia bilang, sebenarnya dia sudah menyukai wanita lain sejak 7 tahun yang lalu”
Penjelasan ifa membuatku tambah bingung dengan masalah ini. “mungkin ini yang terbaik untuk kalian fa, kamu kuat dong… kan ada aku” ucap ku pada ifa untuk menguatkannya.
Setelah mendengar curhatan ifa, aku berniat meletakkan buku-buku cetak yang aku bawa ke laci meja, namun apa yang membuat buku-buku cetak ku tidak bisa masuk seperti biasanya, apa yang menghalanginya?. Ku lihat kotak berbungkus kertas kado berwarna biru kesukaanku, “punya siapa ini?” tanyaku pada ifa yang duduk sebangku denganku, namun ifa juga tidak mengetahuinya, aku mencoba membukanya dan terlihat kotak kayu berisikan mukena dan Al-Qur’an di
dalamnya, “indah” hanya kata itu yang mampu aku ucapkan, “siapa yang meletakkan ini di laci meja ku?” pertanyaan itu berputar-putar di otak ku hanya ada secarik kertas bertuliskan “suatu saat nanti, saat aku tidak bisa menjagamu dengan nyata, aku harap Allah selalu melindungimu bidadari cantik” apa arti dari kata-kata ini?.
Seminggu setelah putusnya rama dan ifa, rama menjadi lebih periang tidak seperti biasanya, dia menjadi lebih jahil tidak seperti biasanya, aku sendiri heran dibuatnya, “kamu gak lagi sakit kan ram?” tanyaku pada rama saat dia bercanda denganku di taman, hanya tertawa yang dilakukan rama saat aku melayangkan pertanyaan itu padanya. Mungkin memang dia sudah berubah? Atau ada alasan apa yang aku tidak tahu.
“okha, pulang bareng yuk” tumben apa seorang rama mengajak aku pulang bersamanya? Namun karena aku
sudah ada janji dengan ifa untuk menemaninya ke toko buku, jadi aku menolaknya dengan halus sebisaku.
“okha, kamu ke rumah rama sekarang, rama nunggu kamu” pesan singkat yang aku terima dari indra sepupu rama yang tinggal bersebelahan dengan rama. Tanpa pikir panjang aku langsung pergi ke rumah rama dan yang ku lihat keluarga dan teman-teman rama juga berada di situ. Aku mengucapkan salam pada semua orang di situ. Indra langsung memintaku masuk dan mengantarkan aku sampai di depan sebuah kamar yang di dalamnya terdapat sekumpulan orang. “ada apa ini dra?” tanyaku pada indra yang masih berdiri di sampingku. “masuklah” hanya satu kata itu yang indra ucapkan dan menarik ku untuk masuk.
Raga kaku tak bernyawa, tersenyum dalam tidur panjangnya. Seorang wanita paruh baya memelukku dan menangis di pundakku, “dia sangat mencintai kamu” bisikan lembut wanita itu membuat hatiku lebih teriris dan lemah di hadapan seseorang yang sangat aku kagumi.
“kamu pergi sebelum mengucapkannya ram?” tanyaku dan butiran beningpun tak kuasa lagi ku bendung. Tak percaya semua ini terjadi, lamanya penantian kita, berakhir di sini? Bangun ram, bangun…!!, ego ku memberontak, kenapa tadi aku tidak menerima ajakan rama, kenapa aku tidak pernah peka dengan perasaannya, kenapa aku membuat dia menunggu teralalu lama?, perasaan bersalah berkecamuk di hatiku.
Kini rama telah dimakamkan, dan aku sungguh sangat terpukul atas semua ini, aku memilih ke taman tempat terakhirku bertemu rama.
“kecelakaan itu terjadi saat rama sedang menyebrang jalan, bukanya memperhatikan jalan dia malah asik melihat boneka yang baru saja dia beli dan soal kotak yang ada di laci kamu, itu juga dari rama” terang indra sambil memberikan sebuah boneka teddy bear coklat dengan surat yang digulung dan dikalungkan di leher boneka itu. Aku memeluk bonekanya dan membaca surat kecil di lehernya.
To: okha
Okha, maafin aku yang terlalu takut untuk mengungkapkan rasaku
Aku takut saat aku mengungkapkannya kamu malah akan menjauhi ku
Aku sayang sama kamu okha, aku cinta sama kamu
I Love You OKHA FARADILLA
“ramaaaaaaaa” teriakku untuk sedikit mengurangi beban di hati ini, terlalu cepat kamu pergi ram, aku belum sempat berkata apapun padamu. Tapi inilah takdir dan mungkin ini yang terbaik untuk kita. Selamat jalan rama, semoga tenang disana, aku juga cinta kamu ram.
TAMAT
Cerpen Karangan: S Rokhmatul Umah
Sumber : http://cerpenmu.com/cerpen-cinta-segitiga/cinta-tak-terucap.html

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More