Cerpen Karangan: Kifama Ar Russy HR
Embun, ciptaan Tuhan yang sangat aku sukai. Mataku hanya bisa melihat sehari sekali di pagi hari. Aku hanya bisa memandangnya dari jendela kaca kamarku. Dia begitu sejuk, begitu segar, begitu damai. Setiap kali aku melihat embun, jiwaku merasa tentram, nyaman dan bahagia. Dia begitu mempunyai sebuah nilai estetika tersendiri. Maha karya Tuhan yang menciptakannya sebagai suatu zat yang membawa kebahagiaan bagi setiap orang.
Begitu juga dengan seseorang yang sudah lama bersamaku. Sadarkah dia bahwa dirinya bagai embun pagi? Aku selalu merasa tentram, nyaman dan bahagia jika melihatnya. Diriku sendiri bingung mengapa aku bisa menyukai sebegitu dalam seperti sekarang ini? Tampan? Ya, dia memang begitu tampan, tetapi itu bukanlah suatu alasan utama aku menyukainya. Mungkin karena pribadinya begitu low profile, baik, intelligent, dan berkharisma. Sebut saja namanya shady. Orang yang begitu aku kagumi dan aku puja. Dia juga seorang atlet karate hebat, berbagai kejuaran telah diraihnya.
Oh iya, sebelumnya aku belum perkenalkan diri, aku kekey. Sebenarnya aku bisa dibilang siswi yang lumayan aktif loh di sekolah, hehe. Seperti dalam berbagai organisasi dan eskul yang menantang serunya contohnya tuh OSIS, Pramuka, Pemuda Pecinta Alam atau biasa disebut PPA. Aku juga sering berperan sebagai pahlawan untuk perguruan karate dan lomba-lomba karate. Dan akhirnya aku bonyok dengan membawa piala lomba yang kini tertera di bufet ruang tv. Mengenai sifat ku mungkin aku bisa dibilang bandel tapi bukan dalam artian aku orang yang seronok ya. Aku sangat gemar menggambar, berlatih karate, menulis dan bermain musik.
“Hei Key, ngapain berdiri disitu, ayo masuk..” teriak Shady memecahkan lamunanku. Aku menghampirinya dan memberikan senyum manis kepadanya.
“Gimana kabar kamu, Dy?”
“Seperti yang kamu lihat Key, aku hanya bisa berpangku tangan dengan obat-obatan ini. Obat hanya memperparah keadaanku. Lihat saja, tidak ada perubahan”, keluhnya.
“Obat bukan memperparah, kamu.. Obat cuma meringankan saja. Kamu harus optimis ya, Dy”
“Heh key, aku itu selalu optimis. Aku gak cengeng kayak kamu. Aku tau kok, mata kamu berkaca-kaca liat aku terbaring disini. Halah sudah deh, gak usah bohong. Aku tau kok. Lagian aku udah terima apa yang dikasih Tuhan ke aku. Kamu jangan khawatir ya, aku baik-baik aja kok”.
Benar kata Shady, aku memang selalu ingin menangis melihatnya terbaring lemah seperti ini. Wanita sekuat apapun pasti sedih melihat keadaanya, termasuk aku.
“Aku bersyukur sama Tuhan karena sampai saat ini aku masih diberi kesempatan untuk ketemu kamu dan melihat senyum kamu Key,”
Aku tersenyum dibalik gemingan air mataku, tak ku inginkan air mata ini menetes di hadapanmu, namun mata tak dapat berbohong karena mata bagian tersulit untuk menyembunyikan kebohongan.
Aku tak kuasa menahan semua ini, aku tak sanggup lagi menyembunyikannya air mataku mengalir lembut di pelipis mataku. Aku menangis di hadapannya.
Dekapan lembut kau berikan padaku, detak jantungmu terdengar di telingaku. Detak jantungmu memberiku sedikit perasaan lebih lega dengan keadaan saat ini.
“Kau boleh menangis sekarang tapi tidak untuk nanti saat aku tak lagi bersama mu, menangislah sampai kau tenang.”
Begitu santai dia merespon tingkahku yang mungkin terlihat konyol, aku tak mampu untuk berkata apapun. Aku hanya meremas jaketnya dalam dekapan hangat yang diberikannya padaku, untuk menahan kesedihanku.
Sudah 1 minggu aku tidak melihat senyuman dari wajahmu di sekolah. Sangat sepi! Orang yang kucintai harus berjuang melawan penyakit yang kian bersarang di tubuhnya, yang menggerogoti segalanya. Apa? Cinta? Entahlah, aku sangat merasa sedih melihatnya seperti ini. Rasanya aku ingin sekali menggantikan posisi Shady saat itu. Setiap hari aku selalu bermunajat kepada Sang Pemilik. Untuk memberikan mukzizatnya kepada orang yang selama ini aku cintai.
Seperti biasanya, aku selalu menyempatkan diriku untuk pergi menjenguknya.
“Hai, Dy. Apa kabar?”
“Baik-baik aja, Key. Gimana keadaan kelas kita?”. Aku tau saat ini ia sedang berbohong. Aku tau dia sangat merasakan sakit.
“Ya seperti biasalah, Dy. Akur… Tapi ada sesuatu yang janggal”
“Loh, apanya yang janggal, Key?”
“Aku tidak menemukan senyuman kamu, disana.”
“Hahaha, ada-ada aja kamu Key, aku akan selalu tersenyum untuk kamu Key. Karena kamu adalah malaikat kecil dalam hidup aku. Eh aku punya berita bagus loh. Aku udah diizinin pulang sama dokter. Aku senang banget. Aku pengen kamu temenin aku jalan-jalan ke taman. Tempat pertama kita ketemu. Udah lama nggak kesana.”
“Aku turut senang mendengarnya. Namun sebenarnya batinku menyembunyikan kesedihan ketika kau memangilku malaikat kecilmu. Oke bos, aku bakalan temenin kamu. Besok aku datang ke rumah kamu ya? Kita pergi bareng.”
Seperti janjiku kepada shady, aku menjemputnya dan mengajaknya keluar.
“Pagi Shady.” Sapaku penuh kebahagian
“Pagi juga my litle angel. Yuk langsung aja kita ke taman” dia menarik tanganku.
Taman ini adalah tempat yang sering kami kunjungi. Segalanya kami lontarkan disini. Taman ini terletak tepat di belakang gedung sekolah kami. Entah apa yang membuat orang-orang jarang mengunjungi taman seindah ini. Di taman ini, begitu penuh dengan bunga-bunga yang indah dan berwarna. Begitu tentram, sejuk dan damai rasanya jika aku berada disini. Sejak Shady dirawat di rumah sakit, aku tak pernah mengunjungi taman ini walaupun jaraknya dekat dengan sekolah. Ada sepetak tanah yang begitu tandus dan kering di taman ini, kami berdualah yang menanaminya dan menatanya dengan begitu indah. Ya… Kami memang selalu kesini untuk merawatnya dan menghabiskan waktu disini.
“key… kenapa bunga-bunga ini tampak layu? Apa kamu tidak merawatnya?” tatapan wajahnya penuh tanya.
“Maaf Dy, mereka layu karena tidak ada embun disini”
“Embun? Maksud kamu?”
“Iya, embun itu kamu, Dy. Mereka layu karena tidak ada kamu.” ujarku tersenyum.
Dia hanya terdiam saat aku berbicara seperti itu.
“Mereka merasa tak lengkap jika hanya dengan embun biasa dan aku. Mereka juga merasa kehilangan, Dy”, kataku.
Tak sadar, sudah seharian juga kami di taman ini. Tanpa ku sadari ia terlelap di pangkuanku. Menitik air mataku melihat perubahan fisiknya yang begitu drastis. Wajahnya yang tampan kini terlihat pucat, tubuhnya semakin kurus dan rambutnya semakin menipis dan tak berkilap, membuatku ingin sekali menggantikan posisinya. Aku bangga padanya, dia masih bisa tersenyum di tengah penderitaannya yang begitu pahit ini. Padahal sebenarnya aku tau ada kesedihan di balik senyuman itu.
“Kekey…” ujarnya pelan.
“Eh, Dy, kamu udah bangun? Kita pulang ya, udah mau malam nih”
“Jangan Key, temenin aku disini. Aku mau merasakan embun membasahi tubuhku.”
“Tapi udara malam gak bagus buat kesehatan kamu, Dy”
“Plis, sekali ini aja, temenin aku. Apa lebih baik aku sendiri saja?”
“Eh, jangan Dy. Iya deh, aku temenin kamu.”
“Gitu dong baru namanya Kekey aku.”
“Shady…”
“Hmmm?”
“Kamu suka dengan embun?”
“Suka banget key, mereka sangat bening dan suci. Aku ingin seperti mereka. Kalo kamu?”
“Aku juga mencintai embun”
“Aku ingin seperti mereka key.. Mereka selalu memberikan suasana berbeda setiap pagi dan selalu ditunggu kehadirannya oleh bunga-bunga ini.” ujar Shady.
“Kamu sudah menjadi seperti mereka kok” aku mengenggam erat jemarinya, seolah takut kehilangan.
“maksud kamu?” memakasan diri untuk menatapku di posisinya sekarang ini.
“Ehmm, enggak. Gak papa.”
Aku merahasiakan perasaan takutku kepadanya. Karena aku tau dia pasti akan mengatakan “aku baik-baik saja” jika aku mengungkapkan perasaanku. Aku tau dia tidak mau terus menjadi beban orang lain lagi. Entah apa yang ada di pikirannya.
Kini tanpa ku sadari, teryata kami tertidur lelap di taman ini.
Jam sudah menunjukkan pukul 5 pagi. Ia benar-benar terlelap lelah di pangkuanku.
“Dy, Shady.. Shady.. Bangun… Katanya mau ngeliat embun? Sudah jam 5 nih Dy”, bujukku. Tetapi aku tak mendengar sahutan darinya.
“Ayolah Dy, jangan tidur terlalu lama…” Aku mulai resah, apa yang terjadi dengannya? Kurasakan tubuhnya dingin, tapi aku melepas pikiran negatifku. Mungkin saja dingin ini berasal dari embun.
“Shady sayang, ayo bangun dong. Jangan buat aku khawatir…”, dia tak juga menyahut. Tubuhnya pucat, dingin dan kaku. Aku berusaha membawanya ke rumah sakit dengan pertolongan orang-orang.
Setibanya di rumah sakit…
“De, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Namun pasien ini tetap berada di masa kritisnya, sabar dan teruslah berdoa untuk keselamatannya.”, ujar dokter yang menangani Shady.
Aku lemah, jatuh dan tidak bisa berkata apa-apa. Mengapa seindah ini rencana mu untuk buat aku menagis lagi? Dia membuat skenario yang indah dengan mengajakku ke taman tempat pertama kami bertemu dan lalui malam bersama untuk melihat embun pagi. Aku tak sanggup..
Beberapa bulan selepas kejadian itu Shady tak kunjung berikan perubahan dan saat itu lah keinginan ayahnya untuk membawa Shady pergi ke Jerman tak bisa dipungkiri lagi. Aku hanya berdoa yang terbaik untuknya, walau berat rasanya melepasmu Shady.
Setelah kepergianmu ke Jerman membuat hati ini semakin sepi dan hening, seakan aku hidup di tengah keheningan.
Namun hati ini merasa tak sendiri lagi setelah aku tau kabarmu semakin membaik, dan kau akan kembali ke Indonesia.
“Tuhan, terimakasih atas karuniamulah ia bisa kembali berkumpul bersama kami”. Aku merasa senang tak tergambarkan oleh apa pun, aku di sini menunggu kepulanganmu. Aku ingin melepaskan rindu yang telah lama bersarang di hati ini.
Seminggu sudah aku menunggu kepulanganmu, namun kau tak memberiku kabar lagi. Aku mulai lelah atas semua harapanku. namun aku tetap bersabar menantimu hingga saat ini.
“kring..” ponselku berdering. Aku berharap dapat kabar kepulangan mu. Aku masih terus berharap. Namun hal lain yang ku dapat, ucapan Bundanya seakan tamparan hebat yang tak pernah ingin aku percayai. Sepertinya baru kemarin ku dapat kabarmu membaik, seolah baru sedetik yang lalu kau kabari aku bahwa kau akan menemuiku. Waktu tak bisa berdamai, dalam pejam mata aku berharap segalanya hanyalah mimpi buruk yang akan hilang setelah aku membuka mata. Pelan dengan segenap kekuatan hati, aku mulai membiarkan cahaya dunia membias ke dalam pelupuk mata ku. Bergeming tetes air mata membasahi pipiku, tak kuat menahan tangis yang telah tersimpan lama. Setelah aku tau kau telah pergi untuk selamanya. Entah apa yang aku rasakan saat itu, tubuhku lemas, pikiranku kacau amarah dan segala hal menyatu di benak ku. Aku tak percaya kau pergi secepat ini.
Aku hanya bisa menangis dalam sepi, meratapi semua yang terjadi. Ribuan pertanyaan ingin ku lontarkan, pertanyaan akan semua ini.
Setelah beberapa bulan kepergian Shady, ibundanya memberi ku sebuah kado berbentuk hati berwarna merah. Yang di dalamnya tersimpan sebuah surat berwarna merah muda.
“Untuk kekey my litle angel tersayang… Embun, titik air bening dari langit, membasahi kelopak bunga yang mekar. Aku ingin seperti embun, disukai banyak orang, disukai bunga-bunga. Siapakah bunga itu?
Key, terimakasih kamu sudah menjadi cinta terakhir di akhir hidupku. Dan kamu akan tetap menjadi kenangan bagiku. key, aku minta maaf sama kamu aku ingkar janji sama kamu, aku ingkar kalau aku bakal bawa kamu ke New York. Tapi aku yakin kamu akan mengunjunginya bersama lelaki yang memang pantas untuk jadi pengganti aku. Oh iya, key.. Tetap rawat taman kita yah… Aku tak mau mereka layu lagi. Disana tempat pertemuan kita pertama kali dan terakhir kalinya. Tetap jadikan aku embun di hatimu ya.. Aku menyayangimu sayang.. Sampai jumpa. Salam sayang, Muhammad Irshady Petro Khalifah”
Shady, kamu tau, sejak pertama ketemu kamu sudah menjadi embun di hatiku.
Setalah 40 hari kepergiannya aku masih belum bisa mempercayai semua ini, bantu aku untuk dapat lebih ikhlas atas semua kehendakmu ya Tuhan, bantu aku lapangkan semua jalanmu.
Teringat saat-saat aku lalui hari bersamamu, tersirat jelas di pikiranku akan masa indah bersamamu, tak bisa kupungkiri keikhlasanku atas kepergianmu belumlah sempurna.
Masih terbayang saat kau begitu sabar mengajariku untuk menjadi yang terbaik. Kau tak pernah menyerah saat aku berkata “gak ngerti, gua gak bisa.!” penuh perjuangan mengajariku, membuat aku dapat mengerti apa yang tak ku mengerti. Kau memang bagian terpenting dalam hidupku, engkau yang membuat aku menjadi juara kelas, kau juga yang membantuku untuk menjadi seorang atlet hebat sepertimu, usahamu sungguh memberiku perubahan besar.
Karenamu aku dapat menginjakan kakiku di atas podium kejuaran, karenamu langkahku sampai ke negeri Jiran membawa nama bangsa dan menjadi kebangaan semua yang mengenalku. Masih banyak mimpiku untuk dapat bersamamu menjadi kebanggan semua orang yang mengenalku, aku memang bukan atlet hebat sepertimu, aku juga bukan murid yang cerdas sepertimu, aku hanya seorang kekasih yang bodoh yang menyia-nyiakan mu di masa hidupmu.
Saat terpejamnya mata ini, aku membayangkan indahnya surga dan bahagianya saat dicintaimu dan saat mencintaimu. semua terasa sempurna bagaikan cerita cinta sepanjang masa. Namun semakin lama aku terpejam, air mata inilah yang menetes lembut di pipi. aku menangis, kini teringat saat aku tak lagi bersamanya ia telah pergi untuk menghadapmu ya Tuhan. aku menciptakan beribu alasan dan pembenaran untuk tak lagi menangisimu namun seakan sia-sia, Dan kini aku menertawakan diriku sendiri. betapa ironisnya hidupku ini! engkau yang dulu selalu buatku tersenyum dan tertawa renyah kini justru yang paling bisa buatku menangis.
Kini aku mulai menjalankan aktivitasku tanpanya, hidupku kini tak lagi berwarna, aku tak tahu lagi harus bagaimana, apakah aku akan berpura-pura bahagia? Atau bersedih sepanjang waktu? Bersedih sepanjang waktu tak membuat dia kembali di dekapanku bukan? Apalah arti hidup bila aku tak bersamamu. Tuhan… mengapa kau mengambilnya? Aku belum siap menghadapi kenyataan hidupku, apakah kau terlalu mencintainya sehingga kau memanggilnya terlebih dahulu? Apakah kisah cintaku berakhir disini. Akankah mampu aku memberikan cinta ku pada cinta yang lain?
Setelah tiga tahun lamanya kami bersama, mengenal satu sama lain memahami dan mengerti segala yang ada pada diri kami. Itu bukan hal mudah untuk dilupakan, lukisan-lukisan kisah yang tersimpan rapih dalam hati tak mungkin hilang dengan hitungan detik, menit, jam, bahkan hitungan hari. Semua terasa sulit tanpa kehadiranmu di sisiku lagi, kini aku hidup dalam bayang-bayang kenangan indah bersamamu.
Jika ini merupakan sebuah permainan aku berharap ini segera berakhir, jika ini sebuah mimpi atau bunga tidurku aku hanya ingin terbangun meski fajar belum menampakan diri dengan sinar hangatnya.
Tak pernah sedikitpun aku ingin kehilangan dirimu, namun kau bukan milikku lagi. Jadi hanya ingin melihatmu saja, menyapamu dengan biasa, ribut-ribut kecil kita, candaan serius kita dan tentang kejujuran hati kita akhir-akhir ini. Yang tidak bisa mengubah keadaan, karena mungkin aku atau kamu yang tidak berubah. Aku ingat bahwa kau berkata “Kau yang terindah key” itu membuatku semakin miris dengan kenyataan.
Cerpen Karangan: Kifama Ar Russy HR
Embun, ciptaan Tuhan yang sangat aku sukai. Mataku hanya bisa melihat sehari sekali di pagi hari. Aku hanya bisa memandangnya dari jendela kaca kamarku. Dia begitu sejuk, begitu segar, begitu damai. Setiap kali aku melihat embun, jiwaku merasa tentram, nyaman dan bahagia. Dia begitu mempunyai sebuah nilai estetika tersendiri. Maha karya Tuhan yang menciptakannya sebagai suatu zat yang membawa kebahagiaan bagi setiap orang.
Begitu juga dengan seseorang yang sudah lama bersamaku. Sadarkah dia bahwa dirinya bagai embun pagi? Aku selalu merasa tentram, nyaman dan bahagia jika melihatnya. Diriku sendiri bingung mengapa aku bisa menyukai sebegitu dalam seperti sekarang ini? Tampan? Ya, dia memang begitu tampan, tetapi itu bukanlah suatu alasan utama aku menyukainya. Mungkin karena pribadinya begitu low profile, baik, intelligent, dan berkharisma. Sebut saja namanya shady. Orang yang begitu aku kagumi dan aku puja. Dia juga seorang atlet karate hebat, berbagai kejuaran telah diraihnya.
Oh iya, sebelumnya aku belum perkenalkan diri, aku kekey. Sebenarnya aku bisa dibilang siswi yang lumayan aktif loh di sekolah, hehe. Seperti dalam berbagai organisasi dan eskul yang menantang serunya contohnya tuh OSIS, Pramuka, Pemuda Pecinta Alam atau biasa disebut PPA. Aku juga sering berperan sebagai pahlawan untuk perguruan karate dan lomba-lomba karate. Dan akhirnya aku bonyok dengan membawa piala lomba yang kini tertera di bufet ruang tv. Mengenai sifat ku mungkin aku bisa dibilang bandel tapi bukan dalam artian aku orang yang seronok ya. Aku sangat gemar menggambar, berlatih karate, menulis dan bermain musik.
“Hei Key, ngapain berdiri disitu, ayo masuk..” teriak Shady memecahkan lamunanku. Aku menghampirinya dan memberikan senyum manis kepadanya.
“Gimana kabar kamu, Dy?”
“Seperti yang kamu lihat Key, aku hanya bisa berpangku tangan dengan obat-obatan ini. Obat hanya memperparah keadaanku. Lihat saja, tidak ada perubahan”, keluhnya.
“Obat bukan memperparah, kamu.. Obat cuma meringankan saja. Kamu harus optimis ya, Dy”
“Heh key, aku itu selalu optimis. Aku gak cengeng kayak kamu. Aku tau kok, mata kamu berkaca-kaca liat aku terbaring disini. Halah sudah deh, gak usah bohong. Aku tau kok. Lagian aku udah terima apa yang dikasih Tuhan ke aku. Kamu jangan khawatir ya, aku baik-baik aja kok”.
Benar kata Shady, aku memang selalu ingin menangis melihatnya terbaring lemah seperti ini. Wanita sekuat apapun pasti sedih melihat keadaanya, termasuk aku.
“Aku bersyukur sama Tuhan karena sampai saat ini aku masih diberi kesempatan untuk ketemu kamu dan melihat senyum kamu Key,”
Aku tersenyum dibalik gemingan air mataku, tak ku inginkan air mata ini menetes di hadapanmu, namun mata tak dapat berbohong karena mata bagian tersulit untuk menyembunyikan kebohongan.
Aku tak kuasa menahan semua ini, aku tak sanggup lagi menyembunyikannya air mataku mengalir lembut di pelipis mataku. Aku menangis di hadapannya.
Dekapan lembut kau berikan padaku, detak jantungmu terdengar di telingaku. Detak jantungmu memberiku sedikit perasaan lebih lega dengan keadaan saat ini.
“Kau boleh menangis sekarang tapi tidak untuk nanti saat aku tak lagi bersama mu, menangislah sampai kau tenang.”
Begitu santai dia merespon tingkahku yang mungkin terlihat konyol, aku tak mampu untuk berkata apapun. Aku hanya meremas jaketnya dalam dekapan hangat yang diberikannya padaku, untuk menahan kesedihanku.
Sudah 1 minggu aku tidak melihat senyuman dari wajahmu di sekolah. Sangat sepi! Orang yang kucintai harus berjuang melawan penyakit yang kian bersarang di tubuhnya, yang menggerogoti segalanya. Apa? Cinta? Entahlah, aku sangat merasa sedih melihatnya seperti ini. Rasanya aku ingin sekali menggantikan posisi Shady saat itu. Setiap hari aku selalu bermunajat kepada Sang Pemilik. Untuk memberikan mukzizatnya kepada orang yang selama ini aku cintai.
Seperti biasanya, aku selalu menyempatkan diriku untuk pergi menjenguknya.
“Hai, Dy. Apa kabar?”
“Baik-baik aja, Key. Gimana keadaan kelas kita?”. Aku tau saat ini ia sedang berbohong. Aku tau dia sangat merasakan sakit.
“Ya seperti biasalah, Dy. Akur… Tapi ada sesuatu yang janggal”
“Loh, apanya yang janggal, Key?”
“Aku tidak menemukan senyuman kamu, disana.”
“Hahaha, ada-ada aja kamu Key, aku akan selalu tersenyum untuk kamu Key. Karena kamu adalah malaikat kecil dalam hidup aku. Eh aku punya berita bagus loh. Aku udah diizinin pulang sama dokter. Aku senang banget. Aku pengen kamu temenin aku jalan-jalan ke taman. Tempat pertama kita ketemu. Udah lama nggak kesana.”
“Aku turut senang mendengarnya. Namun sebenarnya batinku menyembunyikan kesedihan ketika kau memangilku malaikat kecilmu. Oke bos, aku bakalan temenin kamu. Besok aku datang ke rumah kamu ya? Kita pergi bareng.”
Seperti janjiku kepada shady, aku menjemputnya dan mengajaknya keluar.
“Pagi Shady.” Sapaku penuh kebahagian
“Pagi juga my litle angel. Yuk langsung aja kita ke taman” dia menarik tanganku.
Taman ini adalah tempat yang sering kami kunjungi. Segalanya kami lontarkan disini. Taman ini terletak tepat di belakang gedung sekolah kami. Entah apa yang membuat orang-orang jarang mengunjungi taman seindah ini. Di taman ini, begitu penuh dengan bunga-bunga yang indah dan berwarna. Begitu tentram, sejuk dan damai rasanya jika aku berada disini. Sejak Shady dirawat di rumah sakit, aku tak pernah mengunjungi taman ini walaupun jaraknya dekat dengan sekolah. Ada sepetak tanah yang begitu tandus dan kering di taman ini, kami berdualah yang menanaminya dan menatanya dengan begitu indah. Ya… Kami memang selalu kesini untuk merawatnya dan menghabiskan waktu disini.
“key… kenapa bunga-bunga ini tampak layu? Apa kamu tidak merawatnya?” tatapan wajahnya penuh tanya.
“Maaf Dy, mereka layu karena tidak ada embun disini”
“Embun? Maksud kamu?”
“Iya, embun itu kamu, Dy. Mereka layu karena tidak ada kamu.” ujarku tersenyum.
Dia hanya terdiam saat aku berbicara seperti itu.
“Mereka merasa tak lengkap jika hanya dengan embun biasa dan aku. Mereka juga merasa kehilangan, Dy”, kataku.
Tak sadar, sudah seharian juga kami di taman ini. Tanpa ku sadari ia terlelap di pangkuanku. Menitik air mataku melihat perubahan fisiknya yang begitu drastis. Wajahnya yang tampan kini terlihat pucat, tubuhnya semakin kurus dan rambutnya semakin menipis dan tak berkilap, membuatku ingin sekali menggantikan posisinya. Aku bangga padanya, dia masih bisa tersenyum di tengah penderitaannya yang begitu pahit ini. Padahal sebenarnya aku tau ada kesedihan di balik senyuman itu.
“Kekey…” ujarnya pelan.
“Eh, Dy, kamu udah bangun? Kita pulang ya, udah mau malam nih”
“Jangan Key, temenin aku disini. Aku mau merasakan embun membasahi tubuhku.”
“Tapi udara malam gak bagus buat kesehatan kamu, Dy”
“Plis, sekali ini aja, temenin aku. Apa lebih baik aku sendiri saja?”
“Eh, jangan Dy. Iya deh, aku temenin kamu.”
“Gitu dong baru namanya Kekey aku.”
“Shady…”
“Hmmm?”
“Kamu suka dengan embun?”
“Suka banget key, mereka sangat bening dan suci. Aku ingin seperti mereka. Kalo kamu?”
“Aku juga mencintai embun”
“Aku ingin seperti mereka key.. Mereka selalu memberikan suasana berbeda setiap pagi dan selalu ditunggu kehadirannya oleh bunga-bunga ini.” ujar Shady.
“Kamu sudah menjadi seperti mereka kok” aku mengenggam erat jemarinya, seolah takut kehilangan.
“maksud kamu?” memakasan diri untuk menatapku di posisinya sekarang ini.
“Ehmm, enggak. Gak papa.”
Aku merahasiakan perasaan takutku kepadanya. Karena aku tau dia pasti akan mengatakan “aku baik-baik saja” jika aku mengungkapkan perasaanku. Aku tau dia tidak mau terus menjadi beban orang lain lagi. Entah apa yang ada di pikirannya.
Kini tanpa ku sadari, teryata kami tertidur lelap di taman ini.
Jam sudah menunjukkan pukul 5 pagi. Ia benar-benar terlelap lelah di pangkuanku.
“Dy, Shady.. Shady.. Bangun… Katanya mau ngeliat embun? Sudah jam 5 nih Dy”, bujukku. Tetapi aku tak mendengar sahutan darinya.
“Ayolah Dy, jangan tidur terlalu lama…” Aku mulai resah, apa yang terjadi dengannya? Kurasakan tubuhnya dingin, tapi aku melepas pikiran negatifku. Mungkin saja dingin ini berasal dari embun.
“Shady sayang, ayo bangun dong. Jangan buat aku khawatir…”, dia tak juga menyahut. Tubuhnya pucat, dingin dan kaku. Aku berusaha membawanya ke rumah sakit dengan pertolongan orang-orang.
Setibanya di rumah sakit…
“De, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Namun pasien ini tetap berada di masa kritisnya, sabar dan teruslah berdoa untuk keselamatannya.”, ujar dokter yang menangani Shady.
Aku lemah, jatuh dan tidak bisa berkata apa-apa. Mengapa seindah ini rencana mu untuk buat aku menagis lagi? Dia membuat skenario yang indah dengan mengajakku ke taman tempat pertama kami bertemu dan lalui malam bersama untuk melihat embun pagi. Aku tak sanggup..
Beberapa bulan selepas kejadian itu Shady tak kunjung berikan perubahan dan saat itu lah keinginan ayahnya untuk membawa Shady pergi ke Jerman tak bisa dipungkiri lagi. Aku hanya berdoa yang terbaik untuknya, walau berat rasanya melepasmu Shady.
Setelah kepergianmu ke Jerman membuat hati ini semakin sepi dan hening, seakan aku hidup di tengah keheningan.
Namun hati ini merasa tak sendiri lagi setelah aku tau kabarmu semakin membaik, dan kau akan kembali ke Indonesia.
“Tuhan, terimakasih atas karuniamulah ia bisa kembali berkumpul bersama kami”. Aku merasa senang tak tergambarkan oleh apa pun, aku di sini menunggu kepulanganmu. Aku ingin melepaskan rindu yang telah lama bersarang di hati ini.
Seminggu sudah aku menunggu kepulanganmu, namun kau tak memberiku kabar lagi. Aku mulai lelah atas semua harapanku. namun aku tetap bersabar menantimu hingga saat ini.
“kring..” ponselku berdering. Aku berharap dapat kabar kepulangan mu. Aku masih terus berharap. Namun hal lain yang ku dapat, ucapan Bundanya seakan tamparan hebat yang tak pernah ingin aku percayai. Sepertinya baru kemarin ku dapat kabarmu membaik, seolah baru sedetik yang lalu kau kabari aku bahwa kau akan menemuiku. Waktu tak bisa berdamai, dalam pejam mata aku berharap segalanya hanyalah mimpi buruk yang akan hilang setelah aku membuka mata. Pelan dengan segenap kekuatan hati, aku mulai membiarkan cahaya dunia membias ke dalam pelupuk mata ku. Bergeming tetes air mata membasahi pipiku, tak kuat menahan tangis yang telah tersimpan lama. Setelah aku tau kau telah pergi untuk selamanya. Entah apa yang aku rasakan saat itu, tubuhku lemas, pikiranku kacau amarah dan segala hal menyatu di benak ku. Aku tak percaya kau pergi secepat ini.
Aku hanya bisa menangis dalam sepi, meratapi semua yang terjadi. Ribuan pertanyaan ingin ku lontarkan, pertanyaan akan semua ini.
Setelah beberapa bulan kepergian Shady, ibundanya memberi ku sebuah kado berbentuk hati berwarna merah. Yang di dalamnya tersimpan sebuah surat berwarna merah muda.
“Untuk kekey my litle angel tersayang… Embun, titik air bening dari langit, membasahi kelopak bunga yang mekar. Aku ingin seperti embun, disukai banyak orang, disukai bunga-bunga. Siapakah bunga itu?
Key, terimakasih kamu sudah menjadi cinta terakhir di akhir hidupku. Dan kamu akan tetap menjadi kenangan bagiku. key, aku minta maaf sama kamu aku ingkar janji sama kamu, aku ingkar kalau aku bakal bawa kamu ke New York. Tapi aku yakin kamu akan mengunjunginya bersama lelaki yang memang pantas untuk jadi pengganti aku. Oh iya, key.. Tetap rawat taman kita yah… Aku tak mau mereka layu lagi. Disana tempat pertemuan kita pertama kali dan terakhir kalinya. Tetap jadikan aku embun di hatimu ya.. Aku menyayangimu sayang.. Sampai jumpa. Salam sayang, Muhammad Irshady Petro Khalifah”
Shady, kamu tau, sejak pertama ketemu kamu sudah menjadi embun di hatiku.
Setalah 40 hari kepergiannya aku masih belum bisa mempercayai semua ini, bantu aku untuk dapat lebih ikhlas atas semua kehendakmu ya Tuhan, bantu aku lapangkan semua jalanmu.
Teringat saat-saat aku lalui hari bersamamu, tersirat jelas di pikiranku akan masa indah bersamamu, tak bisa kupungkiri keikhlasanku atas kepergianmu belumlah sempurna.
Masih terbayang saat kau begitu sabar mengajariku untuk menjadi yang terbaik. Kau tak pernah menyerah saat aku berkata “gak ngerti, gua gak bisa.!” penuh perjuangan mengajariku, membuat aku dapat mengerti apa yang tak ku mengerti. Kau memang bagian terpenting dalam hidupku, engkau yang membuat aku menjadi juara kelas, kau juga yang membantuku untuk menjadi seorang atlet hebat sepertimu, usahamu sungguh memberiku perubahan besar.
Karenamu aku dapat menginjakan kakiku di atas podium kejuaran, karenamu langkahku sampai ke negeri Jiran membawa nama bangsa dan menjadi kebangaan semua yang mengenalku. Masih banyak mimpiku untuk dapat bersamamu menjadi kebanggan semua orang yang mengenalku, aku memang bukan atlet hebat sepertimu, aku juga bukan murid yang cerdas sepertimu, aku hanya seorang kekasih yang bodoh yang menyia-nyiakan mu di masa hidupmu.
Saat terpejamnya mata ini, aku membayangkan indahnya surga dan bahagianya saat dicintaimu dan saat mencintaimu. semua terasa sempurna bagaikan cerita cinta sepanjang masa. Namun semakin lama aku terpejam, air mata inilah yang menetes lembut di pipi. aku menangis, kini teringat saat aku tak lagi bersamanya ia telah pergi untuk menghadapmu ya Tuhan. aku menciptakan beribu alasan dan pembenaran untuk tak lagi menangisimu namun seakan sia-sia, Dan kini aku menertawakan diriku sendiri. betapa ironisnya hidupku ini! engkau yang dulu selalu buatku tersenyum dan tertawa renyah kini justru yang paling bisa buatku menangis.
Kini aku mulai menjalankan aktivitasku tanpanya, hidupku kini tak lagi berwarna, aku tak tahu lagi harus bagaimana, apakah aku akan berpura-pura bahagia? Atau bersedih sepanjang waktu? Bersedih sepanjang waktu tak membuat dia kembali di dekapanku bukan? Apalah arti hidup bila aku tak bersamamu. Tuhan… mengapa kau mengambilnya? Aku belum siap menghadapi kenyataan hidupku, apakah kau terlalu mencintainya sehingga kau memanggilnya terlebih dahulu? Apakah kisah cintaku berakhir disini. Akankah mampu aku memberikan cinta ku pada cinta yang lain?
Setelah tiga tahun lamanya kami bersama, mengenal satu sama lain memahami dan mengerti segala yang ada pada diri kami. Itu bukan hal mudah untuk dilupakan, lukisan-lukisan kisah yang tersimpan rapih dalam hati tak mungkin hilang dengan hitungan detik, menit, jam, bahkan hitungan hari. Semua terasa sulit tanpa kehadiranmu di sisiku lagi, kini aku hidup dalam bayang-bayang kenangan indah bersamamu.
Jika ini merupakan sebuah permainan aku berharap ini segera berakhir, jika ini sebuah mimpi atau bunga tidurku aku hanya ingin terbangun meski fajar belum menampakan diri dengan sinar hangatnya.
Tak pernah sedikitpun aku ingin kehilangan dirimu, namun kau bukan milikku lagi. Jadi hanya ingin melihatmu saja, menyapamu dengan biasa, ribut-ribut kecil kita, candaan serius kita dan tentang kejujuran hati kita akhir-akhir ini. Yang tidak bisa mengubah keadaan, karena mungkin aku atau kamu yang tidak berubah. Aku ingat bahwa kau berkata “Kau yang terindah key” itu membuatku semakin miris dengan kenyataan.
Cerpen Karangan: Kifama Ar Russy HR




0 komentar:
Posting Komentar