Recent Posts

Minggu, 28 Juni 2015

Sebungkus Permen

Cerpen Karangan: Rifky Adina Irawan

Matahari bersinar dari ufuk timur. Burung-burung terbang tinggi menimbulkan kebisingan yang menenangkan. Embun menempakan diri di atas dedaunan. Sinar matahari memaksa masuk melalui celah-celah tak tertutup. Seorang perempuan belia sedang bersiap-siap memulai harinya yang menurutnya membosankan. Selalu seperti biasa. Tanpa kejutan.

Perempuan itu berjalan dengan tenang sambil menikmati perjalanannya, dengan sekali-kali melihat sekelilingnya. Tiba-tiba lelaki berbaju yang sama dengannya menghampirinya dengan tergesa-gesa setengah berlari.
“Andira!” teriak lelaki yang bernama Sama dari belakang.
Andira menolehkan kepalanya ke belakang, mencari seseorang yang memanggilnya dan yang ditemukannya seorang pria yang tengah berlari ke arahnya.
“Hai, selamat pagi” balasnya tak lupa dengan senyumannya.
Sama meronggah sakunya, mencari sesuatu. Andira hanya menatap pria itu tak paham.
“Ini buatmu” Ia menarik tangan kanan Andira dan memberinya sebuah permen rasa strawberry sambil sedikit tertawa.
“Hahaha, kamu memang masih kanak-kanak” ucapnya tanpa beban sambil mengacak halus rambut kepala Andira.
“Untuk apa?”
“Senyumanmu..”

Pria itu tak tahu. Bahwa Andira terdiam, tidak bergeming sedikitpun. Ia terdiam merasa ada sesuatu yang mengganjal disana. Jantungnya terasa lebih cepat dari biasanya. Pria itu menghalangi sinar matahari pagi di belakangnya. Andira melihat Sama seperti matahari pagi yang terbit, sangat menyilaukan. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia mendapatkan kejutan yang luar biasa, Sama.

Setiap pagi dengan jam dan latar yang sama mereka selalu bertemu. Andira memutuskan untuk bangun lebih pagi dari pagi-pagi sebelumnya. Hanya untuk bertemu dengannya dan mungkin sebungkus permen lagi yang akan menjadi koleksinya. Bukan koleksi mungkin lebih tepatnya simpanan kenangan hatinya, eh
Aneh memang, tetapi lelaki itu juga selalu menyempatkan diri membeli permen rasa strawberry yang menjadi kesukaan perempuan istimewanya, Andira. Hanya melihat senyumannya saja ia merasa cukup. Tanpa maupun dengan mereka sadari benih-benih cinta melekat pada perasaan masing-masing dan mereka menolak untuk mengatakannya. Membiarkan kata teman menjadi status yang pantas disandang. Setiap hari mereka selalu menunggu hari esok dengan tidak sabar. Karena pagi, yang akan menyatukan mereka.
Entah sejak kapan pagi menjadi kesukaan keduanya tanpa diketahui satu sama lain. Sambil menunggu dengan tidak sabar. Perasaan itu, perasaan yang aneh yang membuat mereka merasa kecanduan dan selalu ingin bertemu. Tetapi tak membuat keduanya risih bahkan mereka menerimanya dengan lapang hati. Menjadikan pagi sebagai pertemuan keharusan. Keharusan yang membuat mereka candu, candu yang menyenangkan. Hanya untuk mendapat 1 fakta yang lazim. Salah satu dari mereka masih dapat merasakan hirup oksigen di tempat yang sama, fakta yang menyenangkan. Untuk tau pasangan hidupmu masih menunggumu untuk hari ini dan merasakan helaan nafasnya di sekitarmu. Dengan Pagi yang sama yang selalu berulang-ulang. Sebuah senyuman dan sebungkus permen.

Andira melihat kesana-kemari. Kiri-Kanan. Depan-Belakang. Mencari seseorang yang bahkan batang hidungnya tidak terlihat sejak tadi. Seseorang yang memenuhi hatinya, Sama. Dari ujung kanan jalan terlihat seorang pengendara motor melaju lesat melalui genangan di sekitar Andira yang membuat cipratan air itu mengenai baju putih abu-abu miliknya.
Sepasang mata dari belakang Andira yang melihat kejadian tersebut berlari ke arahnya sambil melepas jaketnya. Memindahkan jaket yang semula membalut tubuhnya, membalut tubuh Andira. Andira yang tak menyadari kehadiran Sama membuatnya kaget mendapat perlakuan tersebut. Ditolehkan kepalanya ke belakang dan ia menemui sepasang manik mata yang menawan tersirat kekhawatiran yang mendalam.

“Kau tak apa-apa?”
“Aku baik-baik saja. Terimakasih” ucapnya sambil mengokohkan tubuhnya semula dan tentu dengan pertolongan Sama.
“Baiklah minum saja ini dulu.” disodorkannya botol minuman yang berisikan air putih hangat miliknya ke arah Andira.
“Tidak, terimakasih”
“Kau harus minum atau ku tinggal?”
“Ya, ya.. kemarikan”
Gulp… gulp.. glup…
“Terimakasih, Sama”
“ah ya, Selamat pagi, Sama” lanjut Andira buru-buru sambil tersenyum.
“Selamat pagi juga, Andira”

Entah kenapa kata Selamat Pagi tak pernah absen sekalipun dari mulut keduanya, menjadi kata sakral yang wajib di katakan setiap paginya. Seperti suatu keharusan. Membuat mereka berpikir ulang bahwa hidup tak semembosankan seperti dulu. Karena ada suatu pagi dengan seseorang yang menunggumu dengan sebuah kata yang menunjukkan bahwa seseorang itu masih membuka mata dengan manik terindah.
Setelah mengatakan kata sakral bagi keduanya, Sama dengan mudahnya meninggalkan Andira yang tetap berada di tempat menunggu sebuah permen pagi ini untuknya.

“Hey, ayo cepat! masih mau tetap di situ?” teriaknya ketika menatap Andira yang terpaku. Perempuan itu tetap tidak bergeming. Terdiam sambil menatapnya dari kejauhan.
“Tenang saja. Permenmu ada di jaketku” ucap Sama ringan seolah-olah mengerti apa yang di pikirkan sedari tadi oleh Andira.
Sontak Andira yang mendengar perkataan Sama kembali tersadar dan semburat merah merona di pipinya mulai menyebar.
“Siapa yang menunggu permen darimu!” elaknya.
“Dasar payah!”

Sama tidak mempedulikan perkataan omong kosong Andira karena ia tau apa yang dipikirkan Andira. Mungkin karena pikirannya juga sama, Diam-diam di balik punggung Sama, Andira tersenyum simpul atas kejadian kecil tadi sambil memegang erat jaket Sama yang membalut tubuhnya yang mungil kecil.

Andira buru-buru mengambil sebuah toples berisikan permen-permen pemberian Sama yang sengaja ia simpan di atas meja belajarnya, dengan beralasan untuk lebih semangat belajar. Ia tak pernah sedikitpun mencoba mencicipi permen dengan rasa kesukaannya, apalagi untuk keluarganya sekalipun. Ia tak akan rela memberinya. Kemarin ia sudah mengumpulkan 23 permen dan 1 permen untuk hari ini jumlah sekarang 24 permen yang terkumpul. Tanggal bertemunya mereka. 24 Maret 2008, Tanggal yang istimewa untuknya. Memang terlihat sederhana, tetapi jika itu menyakut pautnya dengan Sama. Hal sekecil semut pun akan menjadi besar. Mungkin menjadi tanggal istimewa juga untuk Sama, entahlah Andira tidak mengerti perasaan Sama padanya. Perasaan yang sama dengan apa yang dialami Andira atau hanya teman belaka. Terkadang membuat perutnya mual memikirkannya, ingin mengeluarkan apa yang ia maksud. Tapi tak pantas untuk dikatakan oleh seorang perempuan. Ya, biarkan waktu yang menjawab dan memberikannya bukti yang nyata, tanpa berayun-ayun.

Untuk pertama kalinya Andira tidak menyukai pagi ini. Menjadi pagi yang buruk, bahkan sangat buruk, yang membuatnya ingin memblacklist pagi ini dari daftar paginya. Bagaimana tidak? Lelaki itu berjalan tenang dengan sesekali diiringi canda tawa lepas oleh kedua. Keduanya? ya, Sama berjalan dengan seorang perempuan yang cantik. Sangat cantik menurutnya. Andira melihat mereka dengan tatapan pilu, nafas tercekat sesak, memegang dadanya yang sakit dengan goresan maya beribu-ribu jarum tajam menusuk tepat di ulu hatinya. Mereka bahkan tak melihat Andira. Tidak sedikitpun. Mereka tertawa bahagia bersama. Mungkin perempuan cantik bak bangsawan itu pacar Sama? Ironis. Bulir-bulir hangat terjatuh dengan bebas dari pelupuk matanya tanpa aba-aba sekalipun. Ia mengusapnya sambil berlari menutupi mulutnya -agar suara tangisannya tak terdengar- meninggalkan tempat perkara. Hari itu akan menjadi hari terakhirnya mereka bertemu. Bertemu dengan cara yang sedikit berbeda, dengan merasakan sakit tanpa ingin mendengar penjelasan lebih. Ia merasa sebagai perempuan yang tak tau diri menyukai seorang lelaki tampan yang telah mempunyai kekasih yang lebih layak darinya. Cukup sampai disini, jika lebih akan membuatnya menderita. Tidak akan lagi. Sejak pagi itu, Andira berangkat lebih cepat dari sebelumnya. Menghindari Sama yang menyakitinya tanpa perasaan bersalah. Hingga mereka lulus pun salah satu dari mereka tetap mempertahankan ego masing-masing, tak bertemu, walau membuat mereka tersiksa perlahan. Tanpa Andira ketahui Sama tetap menunggu dan membawa permen untuk Andira di tempat yang sama, tanpa pernah sekalipun absen menunggu walaupun ia tau bahwa Andira tak akan sudi menemuinya dan lain halnya dengan Andira yang memutuskan hanya untuk menyimpan 24 permen tidak untuk 25 permen selanjutnya.

2 Tahun kemudian
Seorang perempuan belia berambut ikal semi panjang melangkahkan kakinya menuju sekolah yang dulu membawa kenangan berarti padanya. Perempuan itu sudah berbeda. Ia mulai beranjak dewasa. Semakin cantik, dengan kulit putih bersinar miliknya dan mata bulat hitam pekatnya. Ia melihat sekitar tempat kenangannya dulu. Tempat bertemu dan berakhirnya kejadian itu. Ia menyadarkan tubuhnya di atas bangku yang baru beberapa bulan terakhir terletak di antara pepohonan. Ia menutup matanya, menerima terpaan hembusan udara yang melewatinya. Membuat helain-helain rambutnya terbang menyentuh wajahnya yang manis. Yang membuat pemandangan ini terlihat tidak manusiawi, tetapi terlalu berharga untuk dilewatkan.
Di lain sisi seorang lelaki berambut tipis pendek arah acuan matanya hanya terpaku pada seorang gadis yang tengah duduk terdiam sambil matanya. Ia mengambil napas dalam-dalam lalu mengeluarkan helaan pelan beratnya sambil berjalan menuju gadis yang ditunggunya belakangan ini.

“Hai, lama tidak berjumpa.” Ucapnya berat.
Andira membuka mata perlahan, ia mengetahui betul siapa pemilik suara tersebut. Cepat atau lambat ia harus bertemu dengannya, oksigen kesehariannya.
“Hai, apa kabarmu?”
“Baik. Bagaimana denganmu?”
“Tidak pernah sebaik ini.”

Tak ada suara sedikitpun. Mereka larut dalam pikiran masing-masing. Tercipta kesunyian mengisi sepasang cucu Adam dan Hawa ini.

“Bagaimana keadaan pacarmu?” tanya Andira memutuskan menyelesaikan kesunyian.
“Pacar?” tanya Sama balik dengan bingung.
“Ya, pacarmu.”
“Aku tak pernah punya pacar sekalipun. Aku hanya melihat seorang perempuan. Perempuan yang tersenyum setiap paginya.”
“Aku hanya menatapmu..” Sambungnya dengan gamblang.

Andira yang menatapnya sendu, kini berganti menatap dengan tatapan tak percaya. Ia menutup mulutnya, bulir-bulir bening hangat turun bersamaan dengan perasaan lega dan bahagianya. Dipeluk eratnya Sama, tanpa mau kehilangan sekali lagi.

“Kuanggap kau juga menyukaiku” canda Sama disela-sela tangisan Andira.
“Hey! momennya lagi bagus, kau merusaknya. Dasar payah!” rajuk Andira.
“Tapi, aku memang menyukaimu.” sambungnya sambil membuang muka menghadap ke samping kanannya menyembunyikan rona merah di pipinya.
“Aku tak mendengar apapun. Kau bilang apa?”
Lagi-lagi lelaki itu menggodanya, Andira menatapnya sengit. Ia mulai memeluk Sama lagi sambil menutup mukanya.
“Aku menyukaimu, lelaki payah!” teriaknya dalam pelukan hangat Sama.
“Ya aku tau, aku juga menyukaimu sebanyak itu.” Bisiknya di telinga Andira yang membuat erangan geli.

Mereka melangkahkan kaki bersama sambil menautkan tangan berharap saling menghangatkan dan tak kan hilang lagi. Mereka akan menempuh hidup mereka yang baru, sebagai sepasang kekasih.

2 tahun yang lalu,
Sama berlari buru-buru mengejar waktu ingin segera sampai untuk menemui perempuan yang mempunyai pusat rotasi hidupnya. Tetapi di arah berlawanan seorang perempuan yang cantik tapi tetap saja tak kalah cantik dari Andira terjatuh yang membuat lututnya terluka. Hanya goresan. Sebagai lelaki, Sama dengan sigap memapah perempuan itu berdiri.

“Terimakasih” ucapnya. Yang hanya disuguhi senyuman tipis dan anggukan Sama.
“Siapa namamu?” tanya perempuan itu.
“Sama, Sama leotnal. Kau?”
“Sarah Amira. Kau mengambil kelas apa?”
“Kebahasaan.”
“Betulkah? aku juga mengambil kebahasaan. Tapi, aku baru bertemu denganmu sekarang.”
“Kebahasaan kelas 2.”
“Ah, pantas!” kekehnya kecil.

Mata Sama tertuju pada balik punggung Andira, Sama tau milik siapa punggung itu. Sama berlari mencarinya, tetapi Andira hilang di antara kerumunan orang-orang berjalan.

Hari ini Sama tak melihat sedikitpun batang hidung gadisnya. Ia bertanya-tanya, tetapi ia tetap berpikir mungkin ia dapat menemui gadis itu besok. Tetapi apa yang didapatkannya tetap nihil. Perempuan itu tetap tak ada di situ, terasa hampa. Sama tetap menunggu perempuan itu hingga perpisahan pun ia tetap menyempatkan menunggu disana berharap gadis itu datang. Hingga Tuhan pun mempertemukan mereka kembali.

Cerpen Karangan: Rifky Adina Irawan
Sumber : http://cerpenmu.com/cerpen-cinta-romantis/sebungkus-permen.html

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More